Bahasa Eipomek perlu di terjemakan

BAB  I

PENDAHULUAN

 

         Alkitab sebagai Firman Allah memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan iman orang Kristen. Perkembangan Gereja dewasa ini yang telah mencapai berbagai negara, suku, ras, budaya, bahasa menuntut adanya keharusan memahami kebenaran firman Tuhan dalam Alkitab dengan baik. Untuk dapat memahami Alkitab dengan baik dan benar alangkah baiknya jika Alkitab itu di terjemakan dalam berbagai bahasa agar para pembaca dapat memahami  kebenaran itu dalam  bahasa sendiri. Memang di sadari bahwa dalam menermahkan Alkitab terdapat berbagai macam kesulitan karena bisa saja terjadi salah  penterjemahan dan ketidak-cocokan kosa kata atau bahasa Alkitab dan bahasa yang  di pakai. Alkitab yang di terjemahkan ke dalam  berbagai bahasa akan sangat membantu memahami kebenaran Firman Tuhan sendiri secara benar.

 

A. Latar B elakang

         Alkitab adalah Firman Allah yang di tulis dalam  bahasa asli yaitu bahasa Ibrani dan Yunani. Ada juga beberapa nats yang di tulis dalam bahasa  Aram. Alkitab  merupakan karya Allah melalui hamba-hamba-Nya yang diilhamkan oleh Roh kudus kepada sekitar 40 orang penulis. Dan di tulis dalam jangka waktu kurang lebih 1500 tahun dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Di mana para penulis  tidak saling  bertemu namun sama dalam inti pemberitaannya.

         Alkitab yang di tulis dalam bahasa asli menjadi sulit untuk di pahami mengingat  banyak pembaca  dan orang percaya pada masa kini yang tidak memahami bahasa asli Alkitab. Untuk mempermudah pemahaman terhadap firman Tuhan tersebut maka Alkitab perlu di terjemahkan atau di tulis dalam berbagai bahasa yang dapat di pahami oleh para pembaca sekalian. Kebenaran firman Tuhan itu biasanya tidak dipahami sepenunya oleh mereka yang mendengar firman Tuhan dari orang lain, jika kebenaran itu di baca dan di dengar dalam bahasa mereka sendiri maka pengertian mereka akan lebih jelas.                                       

         Masyarakat di daerah pada umumnya tidak memahami bahasa asli Alkitab, bahasa Indonesia dengan baik, umumnya mereka hanya bisa mendengar dari hamba-hamba Tuhan yang berbicara atau berkhotbah dalam bahasa mereka tentang kebenaran firman Tuhan tersebut tanpa mereka belajar sendiri dari Alkitab akan isi kebenaran  tersebut.  Perbedaan gaya bahasa, istilah, budaya, benda-benda yang di lukiskan di dalam Alkitab adalah budaya timur tengah sehingga sering kali sulit di mengerti oleh suku-suku yang belum mendengar firman Tuhan. Jadi alangkah baiknya ketika pemberitaan firman Tuhan di sampaikan kepada umat dan dapat dipahami dengan bahasa mereka sendiri. Para penginjil atau pemberita Injil dalam pelayanan selain memberitakan Injil mereka juga dapat menerjemakan Alkitab atau beberapa nats dalam bahasa mereka sendiri.  Dalam perjalanan Alkitab sebagai kebenaran Firman Tuhan pada masa yang lalu di pertahankan keaslian tulisan dan bahasa Alkitab yang tidak boleh di terjemakan dalam bahasa lainnya  oleh gereja. Beberapa tokoh gereja yang terkenal berusaha untuk menerjemahkan  Alkitab  dalam bahasa lain, tetapi dalam perkembangan sejarah akhirnya Alkitab di terjemakan juga  dalam berbagai bahasa.  Dalam bahasa Indonesia pun setelah Alkitab di terjemahkan ternyata banyak orang juga  yang tidak bisa memahaminya karena masih menggunakan  bahasa daerah. Di Papua juga terdapat banyak bahasa daerah yang berbeda satu dengan yang lain sehingga perlu di terjemahkan lagi dengan bahasa masing-masing bahasa daerah.  Misalnya di daerah  kabupaten pegunungan bintang, satu suku yaitu, bahasa Ketengban sudah di terjemahkan dengan Perjanjian baru (PB) tetapi dialek jauh berbeda dari bahasa Lik yupu Eipomek  yang di pakai sehari-hari. Oleh sebab itu perlu di terjemahkan Alkitab bahasa Lik yupu Eipomek agar orang percaya yang berada di sana juga dapat memahami Alkitab dalam bahasa  mereka sendiri.  Penerjemahan Alkitab ini melibatkan beberapa orang yang  memahami bahasa dan duduk di bangku pendidikan agar dalam penerjemahan Alkitab dalam bahasa sendiri dapat di pahami oleh masyarakat Eipomek pada umumnya.

   

BRumusan Masalah

         Penulis mengangkat topik ini karena penulis melihat bahwa tidak banyak tulisan yang berbicara tentang penerjemahan Alkitab. Penerjemahan Alkitab sangat penting bagi sebagian orang yang memahami dengan benar isi Alkitab dan pada umumnya dalam penggunaan bahasa sehari-hari menggunakan bahasa ibu. Memang banyak orang terlibat dalam program penerjemahan Alkitab dan memahami betul bahwa menerjemahkan Alkitab itu sangat penting tetapi tidak banyak tulisan yang berbicara mengenai pentingnya menerjemahkan Alkitab dalam bahasa daerah.  Ada orang yang berangkapan bahwa,  tidak terlalu penting untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa daerah tetapi cukuplah mengajarkan  dengan bahasa umum atau bahasa nasional yang lebih populer di bandingkan bahasa daerah. Tidak semua orang memahami dengan benar  bahasa nasional atau bahasa internasional jadi, jika kebenaran Alkitab di sampaikan dalam bahasa mereka sendiri itu akan membuat mereka merasa bahwa firman Tuhan itu berbicara langsung kepada mereka. Selain itu untuk memelihara keaslian bahasa asli yang hampir pudar dengan perkembangan zaman yang   serba mengglobal membuat nilai-nilai budaya terkikis habis dan selain itu untuk memelihara keasliannya perlu adanya penerjemahan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh masyarakat yang membutuhkan keselamatan dari Injil itu.

“Dalam Alkitab, kita tahu bahwa firman Allah itu sangat penting. Dalam Maz 119 :105, kita baca bahwa Firman Allah itu   seperti lampu yang menuntun kita, dan terang bagi jalan kita. Kalau kita berjalan dalam gelap, kita bisa hilang jalan atau tersandung dan jatuh.  Hidup kita juga sama seperti itu. Firman Allah itu seperti lampu yang sangat terang sekali. Firman Allah memberi tahukan kita bahwa, Allah itu seperti apa? Dan bagaimana kita harus hidup.

         Juga dalam 1 petrus 1:24, 25 menjelaskan bahwa, firman Allah akan tetap ada sekalipun yang lain akan berlalu. Dalam  2 Timotius 3: 15b- 17 kita baca bahwa:

“Kitab suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus kristus. Segala tulisan di ilhamkan Allah memang bermanfaat untuk, mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah di lengkapi untuk setiap perbuatan baik.

         Orang Israel dan orang-orang yang hidup  sesudah zaman Yesus mendengar firman Allah dalam bahasa mereka sendiri.  Kita harus menerjemahkan Alkitab  supaya orang-orang sekarang ini dapat mendengar Allah berbicara dalam bahasa sendiri, sehingga mereka juga bisa mempunyai kesempatan untuk mengerti firman Allah dengan benar dan bisa memikirkan  firman itu  untuk diri mereka sendiri. Mereka akan tahu apa yang Allah sendiri katakan mengenai Keluarga-Nya. Dalam Wahyu 7: 9-10 mengaatakan bahwa, kita akan mendengar orang-orang di surga memuji Allah dalam segala bahasa.

 

  1. Tujuan Penulisan

         Melalui tulisan ini penulis berharap agar:

  1. Masyarakat Eipomek dapat memahami ke benaran firman Tuhan dalam bahasa  Lik yupu ini dengan baik supaya bisa mengerti tentang firman Tuhan itu sendiri. Memang ada Alkitab yang  sudah terjemahkan bagi suku Ketengban pada umumnya, akan tetapi secara khusus masyarakat Eipomek tidak memahami dengan baik Alkitab dalam bahasa Ketengban. Jadi melalui program penerjemahan ini,  Alkitab dalam bahasa Eipomek dapat di realisasikan dalam waktu yang tidak terlalu lama, sekaligus mendorong setiap penerjemah Alkitab dalam konteks  bahasa Lik yupu ini agar bekerja menghasilkan  terjemahan yang baik.
  2. Agar penulis juga belajar dapat menguraikan cara-cara menerjemahkan Alkitab dengan benar, tepat, wajar, dan jelas. Penulis sendiri terlibat dalam program penerjemahan Alkitab dalam konteks  bahasa Lik yupu beserta beberapa orang.

Diantaranya adalah kak ev Nery soll, kak Gasper Kisamlu, kak Pesmin Usdin dan kak James Nabyal. Penulis juga memahami dengan baik agar, cara-cara menerjemahkan Alkitab dalam konteks bahasa Lik ini dengan baik supaya menggunakan Alkitab itu juga dengan baik.

  1. Adalah memang masyarakat Eipomek selama puluhan tahun menunggu  ingin memegang Alkitab sendiri atau dalam hal ini bahasa mereka sendiri tetapi karena tidak ada orang yang mendukung program penerjemahan ini, sehingga masih menunggu sampai saat ini. Yang menjadi kendala masyarakat adalah kurangnya seorang konsultan, dana,  alat-alat seperti komputer, jenzet, dan lain sebagainya. Walaupun ada dua orang missionaris yang tugas di daerah Eipomek tetapi mereka hanya tinggal beberapa waktu sesudah itu kembali ke negara asal mereka. Kemudian kendala yang lain adalah mereka tidak belajar tentang cara penerjemahan itu sendiri. Tetapi berkat Tuhan akhirnya sekarang anak-anak putra daerah sendiri bisa belajar tentang program penerjemahan sehingga tidak lama lagi mereka akan memgang Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.

         Walaupun penulis buku ini bersama tim penerjemah bahasa Lik sudah menerjamahkan sampai pertengahan yaitu perjanjian baru yang sudah hampir selesai dan edisi percobaan sudah di serahkan atau di bagikan kepada para pembaca dan pengguna untuk mengajar dan berkhotbah kepada masyarakat suku Mek Distrik Eipomek Kabupaten Pegunungan Bintang. Kemudian penulis bersama teman-teman sudah kerja lagi untuk perjanjian lama dalam program  A sehingga beberapa tahun kedepan masyarakat sudah memegang yang berarti sudah lengkapnya perjanjian baru maupun perjanjian lama supaya genaplah semua Alkitab dalam bahasa Lik supaya masyarakat tidak perlu menerjemakan dari bahasa Ketengban ataupun bahasa Indonesia tetapi mereka bisa baca dengan bahasa daerah mereka sendiri yaitu bahasa Lik Suku mek distrik Eipomek Kabupaten pegunungan.

 

 D .   M etode P enulisan

         Sehubungan dengan pengumpulan data penulisan skripsi ini maka penulis mengunakan beberapa metode, antara lain adalah:

  1.  Metode kepustakaan yaitu pengumpulan data dengan cara penggalian buku-buku yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini, yaitu tentang penerjemahan.
  2. Metode observasi yaitu melakukan pengamatan dalam kehidupan masyarakat secara khusus didalam lingkupan bahasa dan kata atau Logat dalam bahasa Lik.

 

 

E .   P embatasan P enulisan

         Berdasarkan apa yang telah di uraikan pada latar belakang pada bagian sebelumnya, serta melihat pada dasarnya  tentang penerjamah bahasa Lik dan tentang penggunaan bahasa lik yang di lihat dari berbagai sektor kehidupan, maka untuk mempermudah pembahasannya penulis buku ini membatasi uraiannya.

 

  1. Sistematika Penulisan

         Untuk lebih memudahkan penulisan skripsi ini, penulis mencoba menyusun sistematikanya sebagai berikut:

Bab pertama, merupakan pendahuluan yang membahas tentang latar belakang masalah, alasan pemberian judul, dan tujuan penulisan.

Bab kedua, membahas tentang pengantar untuk penerjemahan Alkitab dan mengapa kita harus menerjemahkan Alkitab, dan beberapa hal yang membuat para pembaca Alkitab tidak bisa mengerti, bagaimana cara supaya Alkitab dalam bahasa Lik  dapat dimengerti, penerjemahan yang wajar, menguji coba hasil penerjemahan, mendengar orang lain membaca, menceritakan kembali hasil penerjemahan bahasa Lik, bagaimana menyelidiki tata bahasa Lik.

Bab ketiga, yang meliputi bagaimana Alkitab sampai kepada kita, Biblikal sejara PL, istilah dan para tokoh.

Bab ke empat yaitu, orang-orang dalam program penerjemahan, panitia atau kelompok penerjemahan, budaya, penerjemahan, syarat-syarat.

Bab  kelima, yaitu langkah-langkah penerjemahan konsep, pertama memeriksa konsultan, tahap-tahap evaluasi penerjemahan dan menjadikan buku dll.

Bab ke enam merupakan bab penutup yang menguraikan tentang kesimpulan dan saran-saran.

BAB  II

PENGANTAR UNTUK PENERJEMAHAN ALKITAB

 

         Pengantar untuk menerjemakan Alkitab itu sangat penting untuk seorang  penerjemah Alkitab. Sedikit latar belakang Alkitab membuat  sempitnya bahasa asli, sejarah penerjemahan Alkitab dan budaya dari Alkitab tersebut. Pada waktu dahulu, orang sudah menulis firman Allah  di atas kertas. Mereka tidak memakai bahasa Indonesia. Mereka memakai dua bahasa yang berbeda. Salah satunya di sebut bahasa Ibrani. Ini merupakan bahasa orang Israel. Allah  berbicara kepada orang Israel dalam bahasa mereka sendiri, dan mereka menulis apa yang Allah katakan itu juga dalam bahasa mereka sendiri.  Buku-buku yang mereka tulis itu di kumpulkan menjadi satu dan disebut perjanjian lama. Sesudah perjanjian lama di tulis, orang-orang Israel lupa akan bahasa mereka. Ketika pada suatu waktu orang-orang dari Babilonia datang dan menyerang orang-orang Israel. Orang Israel kalah dan dibawa ke Babilonia dan dipaksa kerja di sana. Kemudian orang-orang  dari Asyur juga melakukan hal yang sama terhadap orang-orang Israel. Dalam dua kejadian ini, orang-orang Israel kehilangan tanah tempat tinggal mereka dan harus belajar berbicara dalam bahasa lain yang di pakai di Babilonia dan Asyur.

         Bertahun-tahun kemudian  salah satu raja Koresh, membiarkan orang Israel kembali ke tanah mereka. Kita bisa membaca cerita ini dalam kitab Ezra  perjanjian lama. Tetapi  sebagian besar orang Israel  waktu itu tidak bisa berbicara dalam bahasa Ibrani lagi, mereka berbicara dalam bahasa  yang di sebut bahasa Aramaik. Kemudian Raja Yunani, Alexander Agung, mengirim pasukannya ke mana-mana dan ke banyak negeri. Mereka juga datang ke negeri orang Israel dan mengalahkan mereka dan memerintah atas orang-orang Israel. Sebagian besar orang Israel harus belajar bahasa Yunani. Pada waktu itu bahasa Yunani sangat penting dan banyak orang di banyak negara lain juga bisa berbicara dalam bahasa Yunani. Waktu Yesus lahir, kerajaan Romawi yang memerintah di Israel dan bahasa Yunani tetap di pakai sebagai bahasa internasional, layaknya bahasa Inggris yang menjadi bahasa yang dipakai dimana-mana sekarang ini. Jadi pada waktu itu, mereka menulis Perjanjian Baru (PB) dengan memakai bahasa Yunani.

 

 A. Alasan-alasan untuk Menerjemahkan Alkitab

         Dalam Alkitab, kita tahu bahwa firman Allah itu sangat penting. Dalam Mzm 119 ayat 105,  kita baca bahwa firman Allah itu seperti lampu yang menuntun kita, dan terang bagi jalan kita. Kalau kita berjalan dalam gelap, kita bisa hilang jalan, atau tersandung dan jatuh. Hidup kita juga sama seperti itu. Firman Allah itu seperti sebuah lampu yang sangat terang sekali. Firman Allah memberitahukan kita bahwa, Allah itu seperti apa dan bagaimana kita harus hidup.

         Juga, dalam I petrus 1:24-25a, kita baca: semua yang hidup adalah seperti rumput, dan segala kemuliannya, seperti bunga ruput. Rumput menjadi kering dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.

Dalam II timotius 3:15b-17 kita baca, bahwa kitab suci yang dapat memberi hikmat kepadamu menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada kristus Yesus. Segala tulisan yang di ilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah di perlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Karena orang Israel dan orang-orang yang hidup sesuadah zaman Yesus mendengar firman Allah dalam bahasa mereka sendiri. Kita juga harus menerjemahkan Alkitab supaya orang-orang yang hidup pada zaman sekarang ini dapat mendengar Allah berbicara dalam bahasa mereka sendiri, sehingga mereka juga bisa dapat  kesempatan  untuk mengerti firman Allah dengan benar dan bisa memikirkan firman itu untuk diri mereka sendiri. Mereka akan tahu apa yang Allah sendiri katakan mengenai  pribadi setiap orang. Dalam Wahyu 7:9-10 dikatakan bahwa kita akan mendengar orang-orang di surga memuji dalam segalah bahasa. Kemudian tentang penerjemahan Alkitab itu bukan pekerjaan mudah atau pekerjaan yang gampang tetapi, harus di kerjakan dengan pengorbanan waktu, tenaga serta pengorbanan pikiran sehingga bisa dapat menerjemakan dengan baik agar orang lain bisa menikmati hasilnya. Tidaklah gampang juga untuk menyatakan arti dengan tepat secara jelas dan wajar.  Tapi bisa dilakukan, kuncinya adalah  kursus, pelatihan dan taat kepada aturan program penerjemahan itu sendiri supaya bisa berjalan dan diselesaikan dengan baik. Dengan arti kelompok penerjemah itu saling berkomitmen dan membangun suatu komunikasi yang baik sehingga sukses sesuai dengan harapan masyarakat karena adanya perbedaan antara kehidupan pada zaman waktu Alkitab di tulis dengan kehidupan sekarang  dimana  kita berada.  Ada perbedaan geografi yaitu tempat dan budaya. Perbedaan ini membuat banyak hal yang di sebut dalam Alkitab  tidak di kenal oleh orang-orang masa kini. Banyak orang yang hidup  di Indonesia dan lebih khususnya yang tinggal di daerah Eipomek tidak mengenal kata-kata, seperti salju, malaikat perwira, bait Allah, domba, kambing, anggur dan belalang. Semua itu tidak di kenal daerah Eipomek. Ada banyak adat istiadat yang tidak di kenal, seperti kebiasaan untuk beristirahat di atas atap rumah atau mencuci kaki para tamu. Ada juga beberapa nama-nama kelompok kata yang  tidak di kenal paling umum, seperti:

  • Nama binatang, misalnya beruang dan unta
  • Nama tanaman/ pohon anggur, ara, zaitun
  • Keadaan geografi, misalnya gurun pasir, laut
  • Perbedaan cuaca, misalnya salju, es, musim panas, musim dingin
  • Upah dan ukuran, misalnya dinar, efa, bakul dan mil
  • Yang di pakai orang, misalya mahkota, ketopong, zirah
  • Rumah dan bagianya, misalnya, batu penjuru, ruang atas batu kisaran

          Nama-nama seperti ini tidak di kenal oleh mereka. Maka kalau ada suatu kata baru di daerah dan mereka  mendengar hal itu, tentu mereka tidak  akan mengenal dan pasti mereka mengira mungkin itu sebuah nama kota, daerah, atau pun nama orang. Kita semua tahu bahwa, tidak semua kata di atas merupakan hal yang asing di semua tempat, semua itu  tergantung dari masing-masing daerah. Misalnya, unta di kenal di Arab Saudi, tetapi di Indonesia atau Papua belum di kenal. Sebaliknya padi (beras) di kenal di Indonesia atau Papua kemudian di Arab Saudi tidak di kenal. Oleh karena adanya sesuatu yang di tidak kenal itu maka, tugas seorang penerjemah adalah memilih kata yang tepat atau istilah yang menunjuk pada kata tersebut.

         Seorang penulis buku, juga sebagai penerjemah, mempunyai tugas seperti  di daerah Eipomek yang belum mengenal nama-nama seperti di atas, haruslah mencoba untuk menjelaskan binatang yang ada di daerah yang hampir mirip dengan di daerah Arab  dan  di cocokan. Lebih lengkap  penerjemahannya harus mempunyai catatan kaki Alkitab supaya masyarakat Eipomek bisa mengerti dan mengenal serta mereka sendiri bisa mengartikan itu.

 

 B. Hal-hal yang membuat para  pembaca Alkitab tidak bisa mengerti

         Kita tahu bahwa, ada beberapa faktor yang menyebabkan tidak bisa mengerti sebuah pesan.

  1.  Semua bahasa berbeda satu sama yang lain.
  2.  Ada orang biasanya menulis sebuah pesan yang ada hubungan dengan keadaan tertentu. Tidak semua pembaca bisa mengerti keadaan itu.
  3. Budaya dan cara hidup orang-orang dalam Alkitab berbeda dengan budaya dan para pembaca Alkitab masa ini.
  4. Adanya masalah-masalah kerohanian.

          Ada juga seorang penerjemaan susah mengerti setiap bahasa, karena setiap bahasa mempunyai aturan dan kata-kata sendiri untuk menyampaikan sebuah pesan. Aturan dan kata-kata ini berbeda dalam semua bahasa.  Adapun salah satu alasan penting yang membuat kita tidak mengerti suatu hasil terjemahan adalah karena salah dalam penerjemahan:

  • Sering kali seorang penerjemah tidak menerjemakan hubungan antara bagian-bagian cerita wacana dengan wajar. Misalnya penerjemah tidak menerjemahkan dengan baik bagaimana seluruh teks (cerita) berhubungan satu sama yang lain, mana yang bagian cerita penting (tema), arti-arti mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting.
  • Kadang-kadang informasi atau keterangan dalam pesan itu tidak di susun dengan jelas menurut bahasa daerah. Misalnya penerjemah memakai kalimat-kalimat yang panjang tidak wajar, dan tidak jelas artinya. Hal ini membuat orang lain sulit untuk mengerti dengan baik. Orang lain juga akan sulit mengerti kalau urutan kata-kata tidak tepat.
  • Bagaimana cara supaya bahasa Eipomek (lik) yang menjadi wajar?

         Kami sebagai tim penerjemahan bahasa lik melihat  hal seperti itu sehingga, kami mencoba mempelajari bahasa sasaran. Walaupun kami tim lik menerjemakan dengan bahasa sendiri tetapi, kami perlu mempelajari jenis-jenis tulisan seperti cerita nasihat dan lain-lain. Dengan demikian kami tim lik sadar bahwa, bahasa Lik (Eipomek) juga mempunyai aturan-aturan sendiri, sehingga kami bisa membedakan aturan yang ada di bahasa sumber dan bahasa Eipomek.

  1. Kami tim Lik sudah bisa membedakan hal ini maka tidak mudah di pengaruhi oleh bahasa sumber. Oleh karena itu kami tim lik juga sudah bisa menerjemahkan sebuah pesan secara tepat sekali dengan memakai aturan dan  kata-kata apa saja yang ada dalam  bahasa Lik yupu.

         Ada beberapa cara menerjemahkan yang baik dan benar. Sebagai seorang penerjemahan kami tim lik membuat dua langkah ini untuk menerjemahkan bahasa Lik menjadi benar dan wajar

  1.   Sebagai seorang penerjemahan kami pelajari baik-baik arti dari tulisan yang akan di terjemahkan.
  2. Kami sudah mencoba mengucapkan kembali arti itu dalam bahasa daerah dengan jelas dan wajar, namun ada yang tidak dimengerti sehingga kami meminta orang lain atau orang-orang yang tinggal di daerah itu untuk mereka memeriksa hasil terjemahan tim lik supaya  bisa melihat hal-hal apa yang tidak jela, dan dari situ diperbaiki bersama-sama supaya pesan atau nasihat dalam alkitab itu menjadi tepat dan wajar buat para pembaca Alkitab itu sendiri.

Seorang penerjemahan maupun para pembaca juga sulit memgerti karena beda budaya dari Alkitab. Ada alasan atau keadaan tertentu yang membuat seorang menulis sebuah pesan. Alasan atau keadaan ini sering kali tidak tulis, karena pembaca pertama sudah mengerti alasannya dan keadaanya. Tetapi hal ini membuat para pembaca berikut yang  ada pada zaman lain sulit mengerti tulisan itu. Biasanya hal ini terjadi kalau kita berbicara mengenai surat-surat pribadi, misalya dalam surat-surat rasul Paulus contohnya, dalam II Korintus sebenarnya Paulus menulis mengenai hal-hal yang dulu ia temukan waktu dia bertemu dengan orang-orang di Korintus mengenai hal-hal yang dia tulis untuk orang-orang Korintus dan juga mengenai rasa tidak senang dari orang-orang Korintus terhadap Paulus. Orang-orang  pada waktu itu tahu apa maksud Paulus, karena mereka tahu pada waktu itu. Tetapi, orang-orang sekarang ini sudah tidak tahu lagi dan mereka harus membaca surat itu teliti dan baik supaya bisa menarik kesimpulan mengenai apa yang dimaksud Paulus. Dengan demikan kita yang hidup zaman sekarang ini susah mengerti baik melalui para penerjamah maupun para pembaca. Oleh sebab itu kami dari tim lik sudah mencoba meneliti  dengan baik semua Alkitab, entah itu Lima Injil dan surat-surat Paulus supaya nantinya para pembaca Alkitab bahasa Lik sendiri bisa mengerti dan menyimpulkan sendiri.

 

  1. Teknik cara supaya para pembaca Alkitab dalam bahasa Lik mengerti arti cerita itu

          Para penerjemah bahasa Lik juga sudah memikirkan hal itu, supaya orang-orang yang akan baca Alkitab juga akan mengerti. Maka para penerjemah sudah memberikan keterangan kepada para pembaca mengenai keadaan, budaya, iklim/ cuaca, dan nama-nama hewan atau ternak yaitu, cara hidup masyarakat pada zaman Alkitab. Para penerjemah bahasa Lik juga di bagian awal dari Alkitab itu, memberikan keterangan pendek kepada para pembaca mengenai hal-hal yang penting untuk membantu mereka mengerti kitab itu.  Misalnya di dalam Alkitab para penerjemah menulis nama hewan seperti serigala, domba, dan Unta dll. Dengan demikian, ada banyak daerah di Indonesia lebih umumya di papua dan lebih khusunya di daerah Eipomek belum ada sama sekali nama hewan seperti ini maka, para penulis buku ini, sudah menulis dalam Alkitab dengan nama babi unta. Dengan demikan kalau ada orang baru masuk di daerah Eipomek tentu merasa lucu atau menjadi bahan tertawaan, tetapi kalau masyarakat sendiri sangat mengerti dan bisa menerima dengan baik. Alasannya kalau di Eipomek belum ada nama hewan seperti unta maka mereka akan susah mengerti dan susah  mengerti Alkitab tetapi, penerjemahan buku ini sudah membuat catatan kaki supaya mereka mengerti dan bisa menggambarkan Unta itu.

Misalnya penerjamah sudah membuat catatan kaki seperti ini tentang Unta:

 Unta adalah binatang yang sangat tinggi, dan mempunyai benjolan pada punggungnya yang di sebut ponok atau bongkol. Unta mempunyai kaki dan leher yang panjang, dan dia lebih tinggi dari pada sapi atau kuda. Kakinya begitu panjang sehingga orang yang mau naik unta harus membuat mereka berlutut sebelum dia naik atau memuat barang pada punggungnya. Unta sangat kuat, dapat berjalan jauh dengan muatan berat. Seekor unta yang kuat dapat memikul beban seberat 225 kg selama beberapa hari. Unta dapat berjalan dengan kecepatan sekitar 5 kilometer per jam. Oleh karena itu unta terkenal sebagai binatang pengangkut barang berat di padang pasir. Dengan demikian unta tidak pernah memikul beban dengan rela hati, mereka suka meludah mengerang, dan menolak dengan sura keras. Selain memikul barang ia juga memikul muatan orang di atasnya. Pada zaman Alkitab orang biasa mengalas punggung unta dengan kayu dan selimut sehingga orang dapat duduk di atasnya.

 Misalnya tentang serigala dengan catatan kaki seperti berikut:

Serigala adalah sama seperti seekor anjing hutan yang badannya besar. Dia adalah sejenis binatang liar lain yang membunuh banyak domba dan kambing di Israel. Serigala besar mirip dengan anjing herder tapi lebih kuat. Berat badanya bisa mencapai 50 kg lebih. Panjangnya bisa mencapai 1,3 meter termasuk ekornya. Masih ada sejumlah serigala besar di Israel hingga sekarang ini. Biasanya serigala besar bersembunyi pada siang hari, dan keluar pada malam hari untuk mencari mangsa. Mereka dapat bertahan lari pada waktu yang lama. Kalau mengejar mangsa mereka bisa berlari sangat cepat, mendekati 60 kilometer  per jam. Jiga seekor serigala besar mendekat maka domba akan marasa takut dan lari terpencar. Pada saat domba terpencar, sangat mudah bagi serigala untuk menangkap seekor domba yang terpisah dari kelompoknya. Oleh karena itu, para gembala sangat berhati -hati agar satu domba jangan terpisah dari yang lain, dan agar serigala tidak dapat kesempatan untuk mendekati domba-dombanya.

         Dengan demikian cara yang cocok untuk menarik atau membuat orang itu mengerti, yaitu penerjemah harus membuat catatan kaki seperti diatas tadi. Walaupun terkadang ada orang tidak tertarik dengan cerita itu  dan ada juga orang sibuk dengan urusan lain dan tidak mau dengar cerita itu, bahkan ada orang sudah terlalu percaya dengan suatu hal dan tidak mau percaya lagi kalau mendengar suatu hal lain yang baru. Tetapi bagi seorang penerjemah haruslah tetap semangat karena Roh Kudus  membantu kita untuk mengerti arti dan guna dari sebuah pesan Alkitab supaya para pembaca dapat mengerti. Oleh  sebab itu kita sebagai seorang penerjemah mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menerjemahkan pesan-pesan itu dengan jelas. Biasanya orang tidak mengerti suatu pesan dalam Alkitab  karena penerjemah tidak menerjemahkan dengan baik. Penerjemah bahasa Lik mencoba meluruskan bahasa yang kurang wajar,  dan semua tim penerjamah berkumpul dan berdiskusi bersama-sama sehingga kami dapat memperbaiki hal-hal tersebut.

 

  1. Penerjemahan yang Wajar

         Penerjemahan yang wajar artinya, penerjemahan yang baik, harus tepat, jelas, dan wajar.

 Para penerjemah Bahasa lik sudah mencoba hal itu dengan cara, antara lain:

  1.  Para penerjemah sudah berlatih dan menulis cara apa saja dalam bahasa Lik, atau bahasa sehari-hari  ke dalam bahasa daerah .
  2. Para penerjemah juga sudah mempelajari bahasa Lik dan sudah menyelidiki tata bahasa serta gaya bahasa Lik.
  3. Para penerjemah sudah merekam atau menulis bagian yang mau di terjemahkan di luar kepala, tanpa melihat lagi ke  Alkitab bahasa Indonesia ataupun bahasa lain.

         Para penulis Alkitab Bahasa Lik itu baru dalam tahap pertengahan. Artinya belum selesai dan masih dalam proses edisi percobaan.  Para penerjemah belum sempat menulis banyak bahasa Lik. Oleh sebab itu para penulis juga sudah mengambil waktu untuk belajar menulis dalam bahasa daerah itu. Misalya mulai menulis dengan cerita atau bahan-bahan lain. Itu bukan penerjemhan dari bahasa lain, tapi apa yang di pikirkan oleh para penulis sendiri. Karena melalui latihan seperti ini bisa membantu dalam belajar menulis dengan lancar dan mudah di mengerti dalam bahasa Lik.

         Pada waktu menulis suatu  cerita atau suatu penerjemahan, para penulis selalu terpengaruh oleh cara suatu pesan yang di sampaikan dari bahasa sumber. Tetapi kalau para penulis menulis dengan sebuah cerita langsung dalam bahasa daerah sendiri,  pikiran para penerjamah selalu ada pada bahasanya sendiri, sehingga tulisan para penerjamah itu menjadi lebih wajar dan hidup. Dengan cara ini, kemampuan para penulis Alkitab akan semakin baik dan hasil terjemahan juga nantinya akan bertambah baik dan sempurna.

         Ada juga satu cara yang baik untuk mulai belajar menulis dalam bahasa daerah. Misalnya menulis dengan kumpulan cerita-cerita rakyat yang ada dalam bahasa daera. Sesudah itu baru bisa belajar menulis puisi atau cerita-cerita sejarah, pidato nasihat, dan bahan-bahan tulisan lainnya. Karena Alkitab mempunyai  banyak jenis tulisan, seperti cerita sejarah, puisi, nubutan, nasihat, pidato,percakapan, dan surat. Dengan demikian  para penerjemah juga bisa belajar menulis hal-hal ini supaya dapat belajar dan menyelidiki ciri-ciri dari setiap jenis tulisan itu.

          Adapun setiap daerah mempunyai tata bahasa dan aturanya sediri-sendiri. Walaupun para penulis juga sejak kecil sampai besar setiap hari  berbicara dalam bahasa daerah dengan lancar, tapi belum tentu mempelajari tata bahasa dari pada para penerjemah itu sendiri. Oleh karena itu, para penerjemah juga mempelajari tata bahasa daerah sendiri. Dengan demikian para penerjemah sudah mulai mempelajari bahan-bahan yang sudah ditulis dalam bahasa Lik. Juga memperhatikan dengan baik, supaya bagaimana bahasa daerah para penerjemah dengan bahasa Indonesia. Karena ada banyak cara untuk mempelajari banyak tata bahasa daerah dari para penerjemah. Para penerjemah juga bertanya langsung kepada konsultan penerjemahan itu. Oleh sebab itu sebagai penerjemah dianjurkan untuk belajar yang banyak supaya tulisan-tulisan bahasa itu bisa jelas.

         Cara ini bisa membuat atau menyadarkan bahwa, banyak perbedaan antara bahasa penerjemah dan bahasa sumber atau bahasa Indonesia.  Dengan membuat demikian para penerjemah  mengerti apa yang dia tulis itu bisa terima dengan baik oleh pembaca.

Kalau para pembaca menerima dengan baik berarti para penerjemah itu sudah berhasil dalam konteks bahasa daerah itu. Ini membuktikan bahwa para penerjemah sudah menerjemahkan dengan baik, yaitu dalam bahasa daerah dengan tujuan yang jelas, yang wajar dan juga dengan tujuan yang tepat. Sehingga hasil karyanya itu bisa diterima semua kalangan masyarakat dan semua para hamba-hamba Tuhan untuk menarik mereka untuk membaca Alkitab itu sendiri.

 

  1. Menguji Coba Hasil Penerjemahan

         Sering kali dalam penerjemahan haruslah diperiksa apakah terjemahan itu sudah wajar, jelas atau tepat, atau belum. Apakah orang awam bisa mengerti dengan baik? hal seperti itu sering terjadi pada setiap suku bahasa yang di kerjakan itu, sehingga sebagai seorang penerjemah  harus menerjemah dengan  bersuara, supaya bisa menemukan hal-hal yang kurang wajar. Biasanya  hal ini sulit dilihat atau di ketahui kalau penerjemah  hanya membaca terjemahan itu dalam hati saja.

         Oleh sebab itu sebagai penerjemah belajarlah dengan bersuara supaya bisa lebih mengetahui bahwa ada yang ganjil atau tidak.

  1. Waktu seorang penerjemah sudah selesai menerjemahkan suatu bagian dalam Alkitab bacalah hasil terjemahan itu dengan bersuara supaya melihat bagaimana kedengarannya terjemahan itu
  2. Sebaiknya bacakan juga bagian itu kepada orang lain, misalya, teman, keluarga, atau orang yang bisa membantu. Dan tanyakan kepada mereka apakah itu jelas dan wajar atau tidak. Seorang penerjemah sesudah selesai menerjemahkan harus membaca hasil terjemahan itu.  Sesudah itu beberapa hari  lagi  baca ulang  supaya hasil terjemahan itu  bisa diketahui sendiri. Dengan cara ini penerjemah bisa menemukan hal-hal yang baru yang sebelumnya tidak di ketahui atau tidak dilihat sebelumnya.
  3. Ada cara juga yaitu, Rekamlah  waktu membaca hasil penerjemahan itu. Dengan cara itu orang lain juga bisa dengar hasil terjemahan itu, selain membacanya. Dengan demikian ada penerjemah yang mengaku bahwa waktu  penerjemah latihan membaca terjemahannya  itu untuk persiapan merekam. Dari hasil merekam itu bisa ditemukan atau didengarkan kesalahan-kesalahan yang tidak dilihat oleh si penerjamah tetapi, ketika ia memutar hasil rekaman itu di putar ulang didepan orang lain, maka akan terdengar kesalahan-kesalahan itu. Walaupun orang lain tidak membaca langsung dengan hasil penerjamahan itu tetapi, kita semua yakin bawah pasti melalui hasil penerjemahan itu kita mengetahui dan bisa melihat melalui rekaman itu.

 

  1. Mendengar  Orang Lain Membaca

          Tujuan dari uji coba ini adalah untuk memeriksa bagian mana dari terjemahan yang sulit dibaca orang. Kalau ada orang lain yang sulit membaca suatau bagian itu dikarenakan, diterjemhakan dengan arti yang tidak jelas dan bahasa yang dipakai tidak wajar yang  akhirnya  membuat suatu keganjilan.

         Dengan seringnya terjadi demikan maka  tim penerjemah bahasa Lik mencoba menguji hasil penerjemahan kepada seorang yang yang bisa atau pintar membaca dalam bahasa Eipomek. Pada waktu penerjemah membuat uji coba ini, sudah  harus dijelaskan terlebih dahulu kepada orang yang membantu. Karena penerjemah bahasa Lik itu bukan saja menguji apakah ia pintar membaca atau punya kemampuan,  namun menguji dia dari hasil penerjemahan itu, apakah wajar atau tidak. Ada beberapa cara membuat uji coba:

  1. Ada beberapa uji coba dari Penerjemah bahasa lik kepada orang Eipomek yang pintar baca bahasa Lik Yaitu: Pilih beberapa perikop yang agak mudah. Sesudah itu baru penerjemah menguji coba dengan perikop-perikop yang sulit. Penerjemah juga memilih perikop-perikop yang lengkap. Misalya suatu peristiwa mengenai kehidupan Yesus Kristus dan tentang perumpamaan.
  2. penerjemah juga memberikan salinan perikop-perikop kepada orang yang membantu membaca itu  supaya ia jangan membiarkan atau berhenti mempelajarinya.
  3. Penerjemah juga memegang satu salinan yang lain. Hal ini karena, ketika seorang membaca maka penerjemah juga mendengar dan melihat ketika orang itu membaca. Pada waktu ia mendengar, ia harus memberi tanda dimana orang itu membuat kesalahan ragu-ragu ketiga membaca hasil penerjemahan itu.
  4. Dengan demikian penerjemah bahasa mengulangi uji coba beberapa kali kepada orang-orang yang berbeda. Orang-orang tersebut sebelumnya belum mendengar orang lain membaca terjemahan itu. Penerjemah  harus memegang satu salinan ketika ia menguji coba kepada orang itu  supaya ia dapat mencatat kesalahan-kesalahan yang ada. Penerjemah juga tidak memegang lebih dari satu salinan  supaya catatan penerjemah tidak hilang atau tidak tersebar ke mana-mana.
  5. Cara memakai hasil uji coba itu:

Biasanya pada suatu bagian yang sama pada pengoreksian ada beberapa tanda kesalahan dari pembacanya, maka disitulah terletak masalahnya. Misalya bagian itu mungkin;

  1. artinya tidak jelas,
  2. pemakaian ungkapan yang tidak wajar,
  3. pembaca kurang mengetahui kata apa yang di pakai di dalam teks tersebut.

          Oleh sebab itu sebagai penerjemah haruslah mempelajari terjemahan itu supaya penerjemah tahu apa kesalahannya dan dari situlah bisa di perbaiki apa yang salah. Periksa juga seluruh terjemahan itu untuk melihat apakah kesalahan yang sama juga ada di tempat lain. Karena kadang-kadang waktu sedang membaca, pembaca biasanya tanpa sengaja mengubah satu atau dua kata yang di bacanya. Ini bisa terjadi karena pembaca sudah lelah atau kurang hati-hati. Tetapi banyak kali ini terjadi karena ada sesuatu yang tidak wajar atau ada yang ganjil dalam penerjemahan itu sehingga pembaca langsung tanpa sadar mengganti bagian yang ganjil itu supaya wajar ketika di baca. Oleh karena itu perhatikanlah hal ini.!

         Biasanya juga si pembaca, membaca suatu bagian secara berbeda dengan maksud penerjemah. Mungkin juga pembaca, membaca dengan “Nada” yang salah sehingga arti bagian itu berubah kalau pembaca salah baca suatu kata sehingga artinya jadi lain, itu berarti terjemahan tidak jelas. Dengan demikian pembaca tidak akan mengerti maksudnya dan kemudian terjemahan itu perlu di perbaiki lagi supaya bisa sempurna. Uji coba seperti ini hanya bisa membantu kalau pembaca adalah orang yang bisa membaca dengan baik. Oleh karena itu waktu mereka membaca ambil kesempatan untuk mendengar orang-orang membaca hasil terjemahan itu. Maka para penerjemah bisa memperhatikan apakah terjemahan itu jelas bagi mereka yang membaca hasil terjemahan itu.

         Tujuan dari uji coba ini adalah untuk memeriksa bagian-bagian terjemahan mana yang baik dan mana yang tidak jelas artinya, yang membuat pembaca salah mengerti. Uji coba ini juga sangat menolong bagi seorang penerjemah untuk memikirkan bagian mana yang perlu di perbaiki dan perlu diperhatikan.

 

G . Menceritakan kembali  hasil penerjemahan bahasa lik

         Tujuan dari pada uji coba ini adalah menceritakan kembali yang di buat oleh penulis buku ini. Hal ini sengaja dibuat supaya dapat memeriksa bagian-bagian terjemahan  yang  tidak jelas artinya, sehingga membuat pembaca salah mengerti. Uji coba menceritakan kembali ini sangat membantu penerjemah untuk memikirkan apa yang perlu perbaiki. Penerjemah bahasa Lik sudah mencoba beberapa cara untuk menguji coba.

  • Penerjamah memilih perikop yang agak pendek (kira-kira 3-4 sekali uji)
  • Penerjemah juga sudah melakukan hal seperti membacakan bagian perikop itu kepada seseorang yang belum tahu cerita itu. Ataupun penerjemah melihat bahwa ada seseorang yang bisa baca sendiri sehingga penerjemah  meminta dia untuk membaca.
  • Penerjamah juga meminta dia menceritakan kembali apa yang baru saja dia baca atau mendengarnya memakai kata-katanya sendiri sehingga penerjemah juga dapat merekam apa yang dikatakan itu.

 Alasan untuk penerjemah membuat rekaman adalah :

  • Apakah ada bagian cerita yang tidak disebutkan? Atau mungkin bagian itu tidak jelas?
  • Apakah orang itu salah mengerti apa yang di maksudkan oleh penerjemah? Atau munkgin ini  juga adalah tanda bahwa terjemahan itu tidak jelas?
  • Mungkin orang itu memakai kata-kata yang lebih baik waktu menceritakan kembali  apa yang sudah di baca sehingga penerjemah berpikir bahwa barang kali kata-kata itu bisa di pakai untuk memperbaiki hasil penerjemahan dan hasilnya lebih jelas dan wajar.

Dengan demikian penerjemah juga bebarapa kali menguji coba kepada orang-orang lain yang berasal dari  daerah Eipomek. Namun peneerjamah tidak memberi cerita  yang sudah pernah mereka dengar  waktu orang lain menceritakan kembali. Adapun penerjemah tahu persis bahwa, kalau ada lebih dari satu orang yang tidak mengerti bagian tertentu maka sudah pasti memang bagian itu tidak jelas. Penerjemah bahasa Lik juga dapat melakukan dengan satu kelompok orang, dengan alasan adalah diskusi yang dilakukan  dalam kelompok itu bisa menunjukan bagian yang kurang jelas atau wajar. Ada hal yang baik dilakukan oleh penerjemah adalah merekam cerita dari orang-orang itu pada waktu mereka sedang bercerita. Hal ini memang sangat membantu para penerjemah, karena penerjemah bisa memutar kembali rekaman itu untuk  kembali mendengar dan kemudian penerjemah mencatat kembali hal-hal yang tidak sempat penterjemah catat waktu uji coba itu sedang berlangsung.

 

H . Bagaimana menyelidiki tata bahasa dari bahasa Lik

         Penerjemah bahasa Lik sadar bahwa, setiap bahasa mempunyai aturan tersendiri. Oleh sebab itu mempelajari aturan bahasa atau tata bahasa dari suatu bahasa daerah sangat menarik. Dengan demikian, meskipun penerjemah bahasa Lik menerjemahkan ke dalam bahasa sendiri  yaitu, bahasa Lik tetapi, penerjemah perlu mempelajari tata bahasa penerjemah sendiri. Penerjemah bahasa Lik  sudah harus sadar bahwa bahasanya dan tata bahasanya serta gaya bahasanya. Dan akhirnya mempunyai banyak cara untuk menyatakan perbedaan arti-arti yang paling kecil sekalipun.

         Dengan mempelajari tata bahasa dari bahasanya sendiri, penerjemah Lik  bisa menghargai kekayaan dan kemampuan bahasa penerjemah itu sehingga mereka sudah bisa memakai kekayaan bahasa itu dengan lebih baik dalam menerjehmakan bahasa Lik itu.

         Penulis buku ini sadar bahwa,  ada perbedaan antara bahasa Indonesia atau bahasa sumber lainnya dengan bahasanya sendiri yaitu bahasa Eipomek (Lik). Penerjemah bahasa Lik sudah tidak akan menerjemahkan secara harfiah atau kata perkata. Penerjemah juga sudah tidak mempertahankan bentuk bahasa sumber dalam terjemahannya.

         Dalam meyelidiki  tata bahasa seperti ini, penerjemah sudah mendapatkan beberapa hal yang membantu untuk mempelajari tata bahasa dari bahasa penerjemah itu sendiri. Hal  ini sudah di sampaikan kepada konsultan penerjemahan Bahasa Lik sehingga ia sudah membantu dengan bahan-bahan bacaan yang lain yang bisa membantu penerjemah mempelajari bahasa Lik itu sendiri. Penerjemah melakukan hal ini dengan tujuan untuk adanya banyak  cara, atau gaya bercerita atau cara menyatakan suatu hal. Ada beberapa contoh gaya bercerita: cerita-cerita rakyat, sejarah cerita yang benar-benar terjadi, cerita mengenai pengalaman pribadi. Setiap gaya bahasa seperti di atas mempunyai ciri-cirinya sendiri. Misalya cerita rakyat mempunyai cara tersendiri, waktu membuka dan menutup cerita itu. Gaya atau cara bercerita juga berbeda karena cara ini, mungkin juga cocok untuk bercerita suatu cerita sejarah.

 

 

 

 

 

 

BAB III

LANGKAH - LANGKAH  ALKITAB SAMPAI KEPADA KITA

 

         Sekarang ini negara-negara di seluruh dunia, orang-orang bisa membaca bagian-bagian Alkitab lebih dari 1900 bahasa. Tetapi dahulu tidak begitu. Karena banyak faktor yang menyebabkan orang tidak berani menulis Alkitab,  tidak berani memberitakan Injil kemana-mana bahkan tidak berani juga membaca Alkitab. Alasannya adalah:

  • Karena Pemimpin-pemimpin Agama, maupun Pemerintah menentang mereka.
  • Karena susahnya alat komunikasi dan  sulitnya transportasi yang disebabkan banyaknya medan dann banyaknya benua yang begitu jauh.
  • Karena mendapat tekanan dari orang-orang yang tidak senang akan ajaran Yesus Kristus.

         Namun demikian para tokoh penginjil pertama maupun penerjemah tidak takut karena mereka percaya bahwa Tuhan Yesus selalu menyertai mereka. Sehingga dari orang Yunani keluar ke Inggris dan Eropa dan pergi ke tempat lain di dunia ini. Penginjil-penginjil juga pergi kemana-mana dan dalam beberapa ratus tahun kemudian khususnya sesudah tahun 1800, ratusan terjemahan di buat sampai sekarang ini. Dalam abad ini, sudah semakin banyak terjemahan yang dibuat. Saat ini ada ribuan penerjemah dari lima puluh negara yang sedang membuat Alkitab. Lebih banyak penutur asli dari macam-macam bahasa yang belajar mengenai penerjemahan dan semakin banyak dari mereka yang langsung ikut dalam pekerjaan penerjemahan itu. Ada beberapa cerita mengenai sebagian penerjemah Alkitab itu.

 

 

 

  1. Biblikal Sejarah Perjanjian Lama

         Kalau orang menulis sebuah buku, biasanya yang menulis itu jumlanya satu atau dua orang saja, kadang-kadang lebih dari itu. Kemudian tentang waktu penulisan buku juga perlu beberapa minggu, bulan, dan beberapa Tahun untuk menyelesaikan buku itu. Tetapi mengenai Alkitab itu ditulis selama lebih dari 1500 tahun. Dan ada lebih dari 35 orang yang menulisnya. Mereka adalah orang-orang percaya kepada Allah dan yang menulis pesan-pesan Allah kepada nabi-nabi, imam-imam serta, raja. Diantaranya adalah:

  • Musa yang memimpin orang Israel keluar dari mesir
  • Daud seorang anak gembala yang kemudian menjadi seorang raja besar
  • Yesaya seorang Nabi
  • Matius bekas pemungut pajak yang kemudian menjadi murid Yesus
  • Paulus yang pertama-tama melawan orang kristen yang kemudian menjadi seorang penginjil yang terkenal.

          Jadi Alkitab itu seperti buku yang di kumpulkan menjadi satu, seperti sebuah perpustakaan. Ada banyak macam cerita dalam Alkitab yang berisi cerita yang benar-benar terjadi mengenai kehidupan orang-orang, perumpamaan, sejarah, lagu-lagu puisi, hukum dan peraturan, khotbah dan surat-surat. Semuanya ada 66 kitab  dalam Alkitab. 39 kitab dalam perjanjian lama dan 27 kitab dalam perjanjian baru. Jadi ketika Allah memberikan sepuluh hukum kepada Musa hukum itu disimpan di dalam tabut perjanjian. Kemudian kata-kata dan tulisan-tulisan dari nabi itu disimpan bagi yang generasi akan datang. Salinan dari kitab-kitab seperti Mazmur dan kitab-kitab lain simpan di tempat khusus, misalya di Bait Allah. Waktu Yesus hidup kitab-kitab perjajian lama sudah di kumpulkan dan sangat dikenal orang. Juga sudah selesai diterjemahkan ke  dalam bahasa Yunani. Bagian perjanjian baru yang ditulis pertama-tama adalah surat-surat Paulus kepada gereja-gereja. Orang-orang membuat salinan dari surat-surat ini untuk gereja-gereja. Sesudah itu banyak orang menulis cerita-cerita mengenai kehidupan dan ajaran Yesus. Beberapa ratus tahun kemudian dewan khusus mengadakan rapat untuk memutuskan kitab-kitab mana yang sebaiknya di kumpulkan dalam perjanjian Baru. Waktu orang pertama menulis Alkitab, tidak ada alat percetakan, tidak ada mesin ketik ataupun komputer serta juga tidak ada kertas seperti sekarang ini. Jadi segalanya harus di tulis  atau di ukir dengan tangan. Misalya sepuluh Hukum Allah dan beberapa hukum lain di ukir di atas loh atau lembaran batu. Beberapa bagian Alkitab ada yang di tulis di atas kulit domba atau kambing. Selama ratusan tahun orang-orang khusus menyalin Alkitab dengan tangan mereka dan memeriksa salinan salinan itu dengan hati-hati. Orang-orang itu sering bekerja sama. Yaitu satu orang membaca Alkitab keras-keras setiap baris dan yang lain menuliskannya. Tetapi Alkitab seperti ini sangat mahal jadi hanya orang kaya saja yang bisa membelinya pada waktu it.

 

B.  Analisa dari  Penerjemahan Buku Ini

          Analisa tentang buku ini yaitu penerjamahan tentang Alkitab dibutuhkan banyak pengorbanannya, diantaranya  adalah:

  • Mengorbankan waktu
  • Mengorbankan  tenaga
  • Mengorbankan  pikiran

         Ini di lihat dari banyaknya pengalaman yang nyata mulai dari zaman Musa sampai Rasul Paulus. Karena Alkitab ditulis kurang lebih 1500 tahun dan orang-orang yang menulis Alikitab juga lebih dari 35 orang sehingga memakan waktu yang cukup lama. Penerjemahan bukanlah hal yang gampang dan tidak mudah untuk menerjemahkan Alkitab dalam suatu bahasa  daerah sehingga penerjemah menyadari bahwa banyak mengorbankan segala sesuatu dalam penerjemahan Alkitab ini.

  • Misalnya pengorbanan waktu:

         Seorang penerjemah Alkitab yang mengorbankan waktunya tidak mengenal siang atau malam. Dia menginginkan supaya penerjemahanya itu bisa selesai dan bisa distribusikan kepada para pembaca dan bisa memberitakan kabar baik kepada orang -orang yang tidak memiliki kebenaran firman Tuhan yaitu Injil tentang Yesus Kristus.

  • Misalnya pengorbanan Tenaga:

         Seorang penerjemah banyak meluangkan waktu untuk menerjemahkan  Alkitab dari pada pekerjaannya sendiri. Karena ia merasa bahwa, penerjemahan tentang Alkitab itu pekerjaan yang mulia. Walaupun ada kekurangan, ada keterbatasan dan beban yang ia tidak mampu selesaikan tetapi baginya penerjemahan adalah hal yang harus  ia tuntaskan yang di berikan oleh konsultan maupun masyarakat dan lebih khususnya dari Tuhan.

  • Misalnya Pengorbanan Pikiran:

         Seorang penerjemah juga mengorbankan pikiran. Karena pikiran inilah yang  harus ia masukkan ke dalam Alkitab. Kalau seorang penerjemah tidak memikirkan dan tidak membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik maka pasti penerjemahanya itu ada persoalan dalam Alkitab itu, sehingga ketika Alkitab itu distribusi kepada para pembaca maka pasti  ada yang tidak wajar ada yang kurang tepat dan ada yang tidak jelas. Oleh karena itu seorang penerjemah banyak mengorbankan pikiran untuk membedakan kata-kata mana yang layak di pakai dan mana yang tidak layak untuk pakai.

         Dengan demikian penerjemah bahasa Lik ini menyadari bahwa, memang ada beberapa hal yang harus siap dikorbankan demi menyukseskan keseriusan tentang Alkitab bahasa Lik ini.

         Karena baginya ini adalah hal yang mulia  penerjemah banyak mengorbankan waktu untuk menerjemahkan Alkitab dalam Konteks bahasa Lik  di Distrik Eipo kab-Pegubin.

 

C. Tanggapan dari P ara P embaca B uku ini

         Tanggapan positif dari para pembaca buku ini,  adalah mereka yang mendiami wilayah kabupaten penggunungan Bintang Distrik Eipomek Dan Pamek. Suku mek   berbahasa Lik, kira-kira 12.822  jiwa  yang  tersebar di  dua distrik  empat pos pelayanan lapangan terbang.  25 Desa atau kampung dan  12  gedung Gereja atau jemaat  5 pos PI pelayanan Gereja Injili di Indonesia (GIDI).  Distrik ini adalah,  langsung  perbatasan dengan Kabupaten Yahukimo.  Mereka  sangat   mendukung dan sangat siap untuk proyek penerjemahan dalam bahasa mereka yaitu,  dalam bahasa Lik. Pada waktu konsultan dan penerjemah  buku ini mencoba membawa edisi percoaan ke daerah itu mereka menyambut dengan sangat antusias. Salah satu  mewakili seluruh  gembala sidang dan seluruh pengerja Gereja serta seluruh jemaat  yang diwakili oleh satu Gembala daerah yaitu, Dius Tengget.  Ketika hari diresmikan atau distribusikannya edisi percobaan itu, ia dalam sambutanya menyatakan  bahwa, masyarakat di sana sangat menyambut baik karena selama puluhan tahun mereka sudah menantikan supaya ada yang menerjemahkan ke dalam bahasa mereka kebenaran firman Tuhan. Keterbatasan Alat dan belum adanya dana untuk menerjemahkankan menjadi kendala. Tetapi  karena Tuhan sehingga sekarang  sudah  dikabulkan doa mereka. Oleh karena itu menurut Dius Tengget,  proyek penerjemahan ini bisa terus berjalan dengan baik supaya 2-3 Tahun kedepan mereka bisa memegang perjanjian  baru,  mulai dari Matius sampai Wahyu. Kemudian ia menambahkan pula bahwa, masyarakat Eipomek dan Pamek mau supaya  mulai dari sponsor sampai konsultan dan tim penerjemah juga bisa melanjutkan juga dengan Perjanjian Lama. Yaitu mulai dari kitab Kejadian sampai Maleakhi supaya mereka bisa pegang dan bisa menikmati kebenaran firman Tuhan secara utuh dengan  bahasa mereka sendiri. Dengan demikian Dius Tengget juga mengatakan bahwa mereka juga berterima kasih kepada sponsor yang ada di Gereje-gereja di Amerika dan juga kepada konsultan dalam hal ini pak  Andrew  Sims dan Nyonya Anne Sims yang selalu membantu untuk penerjamahan bahasa Lik. Dius Tengget juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang selalu menolong yaitu Ymp3, Yajasi, De-pulau  dan juga lebih khusus nya STT IFTA. Karena Rektor IFTA serta seluruh dosen yang telah mendukung  salah satu mahasiswa IFTA sebagai penerjemah yaitu, penulis buku ini. Dengan demikian Dius Tengget juga menyadari bahwa penerjemah  Alkitab itu tidak mudah, karena banyak tantangan yang selalu dihadapi yaitu, segi  kesehatan, kesulitan biyaya hidup dari pada penerjemah. Tetapi ia mengatakan bahwa, Tuhan masih ada dan Tuhan menjadi segala sumber berkat. Jadi jemaat mendoakan supaya Tuhan memberkati secara jasmani maupun sejarah Rohani kepada tim penerjemah supaya bisa berjalan dengan  kehendak dan rencana Tuhan saja.

 

  1. Istilah dari Para Tokoh

         Waktu pertama kali Alkitab di terjemahkan yaitu sesudah Yesus mati dan bangkit. Berita mengenai Dia tersebar dengan cepat ke tempat di mana orang tidak bisa berbicara bahasa Yunani dan bahasa Ibrani. Sehingga di mana orang Kristen pergi, mereka menerjemahkan kitab suci itu ke dalam bahasa orang-orang itu.  Mereka pergi ke bagian-bagian lain di Timur Tengah, ke Mesir dan tempat-tempat lain yang sekarang di sebut dengan Eropa, dan Rusia. Alkitab diterjemahkan mula-mula ke dalam beberapa bahasa di bawa ini:

  • Bahasa Suria yang di pakai di negara yang sekarang di sebut Turki.
  • Bahasa Koptik di pakai di Mesir.
  • Bahasa Armenia, di pakai di Armenia sekarang bagian dari Rusia.
  • Bahasa Jermanik di pakai di Eropa Utara.
  • Bahasa Slavia Kuno, di pakai di Eropa  Timur dan Rusia.

         Jadi sekitar 300 tahun sesudah kehidupan Yesus, bahasa latin  menjadi bahasa-bahasa yang paling penting. Jerome, adalah seorang yang sangat pintar menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin. Terjemahan ini  di pakai selama ratusan tahun. Bertahun tahun kemudian banyak orang tidak bisa bicara atau mengerti  bahasa Latin lagi, karena banyak bahasa lain menjadi lebih penting. Orang-orang biasa harus belajar  melalui gambar-gambar selain itu orang-orang bermain mengajarkan melalui drama untuk membantu mengajar cerita-cerita tentang kehidupan Yesus dan ajaran-ajaranya. Pada waktu pertama penginjil-penginjil ke Inggris mereka hanya mempunyai bahasa Latin. Tapi orang-orang di Inggris tidak bisa mengerti bahasa Latin dengan baik dan, selain itu banyak orang biasa tidak bisa membaca.  Pada tahun 700-an, seorang bernama Bede menerjemahkan dan menulis Injil Yohanes dalam bahasa Inggris. Bahkan mau matipun dia tetap mempertahankan terjemahan dari Injil Yohanes supaya orang lain bisa menulisnya.

         Bagian-bagian lain dari Alkitab di terjemahkan dalam bahasa Inggris serikit demi serikit selama beberapa ratus tahun kemudian. Hampir 700 tahun sudah berlalu sebelum seluruh Alkitab di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada waktu itu ada sebagian pemimpin-pemimpin Gereja berpikir bahwa, orang sebaiknya membaca Alkitab bahasa latin saja. Mereka itu tidak setuju dengan penerjemahan Alkitab dan tidak mau supaya orang membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Jhon Wycliffe dan kawan-kawan menyelesaikan terjemahan pertama dari seluruh isi Alkitab ke dalam bahasa Inggris tahun 1388. Orang-orang menyalin Alkitab dengan tangan secara sembunyi-sembunyi karena pemimpin agama menentang mereka. Jhon Wycliffe mengirim orang-orang ke kota-kota dan desa-desa untuk menyebarkan firman Tuhan. Tapi pemimpin-pemimpin Gereja menangkap sebagian orang yang membacakan Alkitab itu. Mereka di ikat di sebuah tiang dan di bakar hidup-hidup. Beberapa Tahun kemudian sesuada Jhon wycliffe meninggal pemimpin-pemimpin itu menggali tulang-tulangnya dan membakar serta membuang abunya ke sungai. Apa yang mereka lakukan terhadap Wycliffe itu maksudnya untuk menghina dia, tapi ini juga seperti sebuah cerita perumpamaan bagi kita. Karena sesudah membuang ke sungai, abunya mengalir ke laut dan tersebar di mana-mana. Seperti abunya, hasil terjemahan Jhon wycliffe itu juga keluar dan tersebar di banyak tempat. Kira-kira 100 Tahun kemudian seorang yang bernama Tyndale memulai membuat terjemahan Alkitab. Tetapi pemimpin Gereja di Inggris menentang dia sehingga dia pergi ke Jerman dan bergerja diam-diam disana. Ketika ia mencetak dan mengirimnya ke Inggris melalui kapal dan di isi di dalam karung-karung gandum supaya pemimpin gereja tidak bisa menemukan. Waktu Tyndale masih mencoba menerjemahkan Perjanjian Lama, pemimpin-pemimpin Gereja menemukan dia dan memasukkannya ke dalam penjara. Sesudah satu setengah tahun mereka membunuhnya dia lalu mengikat mayatnya di tiang dan langsung mereka bakar. Sebelum ia meninggal dalam kata-katanya terakhir ia berdoa agar Allah membantu Raja Inggris untuk mengerti betapa pentingnya bagi rakyat Inggris untuk mempunyai Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.  Allah menjawab doa ini tidak lama kemudian terjemahan Tyndale itu di cetak di Inggris dengan izin dari Raja Hendry VIII! Dan pada tahun 1604  Raja James menunjuk sebuah kelompok untuk menyiapkan versi terjemahan Alkitab yang resmi, biasanya di sebut “King James Version,” Alkitab versi Raja James. Pada saat itulah penginjil-penginjil mulai keluar dari Inggris dan Eropa pergi ke tempat-tempat lain di dunia. Sampai ke Asia dan termasuk Indonesia dan khususnya di Papua sekarang ini.

  1.  Tujuan  dari Para Tokoh Penginjil Pertama

         Tujuan dari para tokoh penginjil atau di sebut juga misionaris adalah  untuk memberitakan firman Allah, kepada orang-orang  yang tidak mengenal Tuhan Allah, dan Yesus Kristus. Oleh karena itu para penginjil juga  mendalami atau  belajar firman Tuhan lalu memberitakan kemana-mana. Yesus Kkristus  berpesan kepada murid-murid-Nya bahwa,  “Seluruh Kuasa  di Surga dan di bumi sudah serakan kepada-Ku, oleh sebab itu pergilah kepada segala bangsa di seluruh dunia, jadikanlah mereka pengiikut-pengikutKu dan Baptislah mereka dengan menyebut nama Bapa, Anak, dan Roh Allah. Ajarkanlah mereka  mentaati semua yang yang sudah Kuperintakan kepadamu. Dan ingatlah Aku akan selalu menyertai kalian sampai akhir zaman.”  (Mat 28. 19- 20).  Pergilah ke seluruh dunia dan siarkanlah Kabar Baik dari Allah itu kepada seluruh umat manusia. Orang tidak percaya akan di hukum tapi, orang yang bertobat dan dibabtis akan selamat. Sebagai bukti bahwa mereka percaya orang-orang itu akan mengusir roh jahat atas namaKu,' mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak mereka kenal. Kalau mereka memegang ular atau meminum racun, mereka tidak akan mendapat celaka. Kalau mereka meletakkan tangan ke atas orang-orang yang sakit, orang-orang itu akan sembuh. Keajaiban-ajaiban pemberitaan mereka itu benar (Markus 16:15-18). Jadi para misionaris dan para penginjil mengerti ayat-ayat diatas ini sehingga mereka bisa pergi kemana-mana. Seperti yang kita kenal salah satu misonaris Pahlawan Iman dan Penjelajah dari Inggris ke Afrika yaitu dokter David Levingston. Kita kenal bahwa dia itu penjelajah di Afrika masih mudah umur 28 tahun – 60 tahun baru ia meninggal di Afrika karena sakit, mayatnya di bawa ke Inggris dan kubur di London. Dia adalah pahlawan iman yang hebat dan  luar biasa.  Ia  sangat bergaul karib dengan suku-suku yang ada di Afrika. Banyak misionaris yang datang ke Afrika tetapi ada banyaknya kendala akhirnya pulang ke masing-masing negara tapi David Levingston lah yang bertahan demi pelayanan Yesus kristus sehingga ia  di beri kemampuan membawa orang-orang Afrika ke dalam  terang yaitu didalam Yesus kristus. Oleh sebab itu  para tokoh penginjil mereka memberitakan firman Tuhan kemana-mana itu dengan bersusa-payah, dalam keadaan sakit atau dalam kedaan situasi  yang bahaya. Entah itu kedaan pahit atau manis di lakukan demi pelayanan Injil Yesus kepada semua umat yang belum mengenal sejarah penuh sehingga  penginjilan lah yang mampu di lakukan dari Eropa sampai di Asia dan, khususnya di Papua sekarang ini, termasuk di daerah Epimek. Karena Rasul Paulus menjelaskan kepada kita tentang penderitaannya, ia melayani dengan kerja keras  tetapi ia di siksa dari pihak Yahudi maupun non- Yahudi. Dia katakan bahwa, ia sering ampir mati, sudah lima kali disiksa oleh orang yahudi dengan pukulan tiga puluh sembilan kali.  Tiga kali dicambuk oleh orang Roma, pernah di lempari dengan batu, tiga kali ia mengalami keram kapal di Laut dan sekali terapung-apung di selama dua puluh empat jam. Banyak kali ia mengadakan perjalanan yang berbahaya, di ancam bahaya banjir, bahaya perampok, bahaya dari pihak Yahudi maupun non Yahudi, bahaya di kota maupun di luar kota. Ia bekerja keras untuk mendapatkan uang demi pelayanan. Sering tidak tidur, tidak makan,  tidak minum, banyak kali jalan dalam keadaan kedinginan karena tidak ada pakaian dan tidak mempunyai tempat tinggal (II  Kor 11:24-27). Banyak juga tokoh-tokoh penginjil lain yang melayani dalam kedaan susah tetapi Tuhan masih menyertai mereka sehingga tidak membawa mereka ke dalam maut.   Tuhan masih memeliahara mereka dengan sejarah yang luar biasa. Karena Tuhan sendiri berjanji kepada Yosua bahwa, 'Ingat Aku sudah memerintahkan kepadamu supaya engkau membaca kitab taurat itu siang dan malam. Maka engkau sungguh-sungguh  yakin dan berani! Janganlah engkau takut atau kurang bersemangat, sebab Aku Tuhan Allahmu mendampingi emgkau ke mana saja engkau pergi” (Yosua 1:8- 9).  Allah sudah berjanji kepada orang yang percaya kepadan-Nya bahwa pasti  akan memberkati mereka.

Karena di dalam  Injil Matius juga Tuhan Yesus  berkata bahwa, “Dan ingatlah Aku akan selalu menyertai kalian sampai akhir zaman.” Dan seperti itulah  para misioner atau para penginjil memiliki hati yang penuh kasih di antaranya adalah:

  •    Mereka memiliki kasih
  •    Mereka memiliki hati untuk berkorban demi pelayanan Tuhan
  •    Mereka memiliki hati untuk mengorbankan tenaga & waktu demi orang lain
  •    Mereka juga memiliki ketaatan untuk panggilan Tuhan
  •    Mereka juga dengan rela melayani Tuhan
  •    Mereka juga meninggalkan harta, orang tua serta sanak saudara mereka dan pergi ke ladang  Tuhan.

         Karena mereka memiliki hati penuh tanggung jawab sehingga mereka bisa mengorbankan tenaga, waktu, dan mengorbankan nyawa mereka sendiri demi pelayanan Tuhan untuk memberitakan Injil Kristus ke seluruh dunia. Karena mereka mentaati  'Amanat  agung yang di berikan kepada Murid-mirid-Nya oleh Yesus sehingga mereka  melaksanakan tugas dan tangung-jawab penuh kepada panggilan-Nya.

a.   Dengan demikian tujuan para misionaris adalah,  memberitakan Injil supaya semua orang atau suku-suku yang belum mengenal Injil itu mengenal Yesus Kristus sama seperti daerah-daerah atau suku-suku yang lain. Supaya mereka juga hidup didalam Tuhan sehingga ada perubahan yang terjadi  dimanapun, dalam mempersiapkan untuk menyambut kedatangan Sang Juruselamat yaitu Yesus Kristus.

 

b.  Tujuan  dari pada Misionaris adalah, jangan sampai semua suku belum menerima Injil lalu Allah menghukum mereka  yang mereka rela  memberitakan Firman Tuhan ke semua suku yang belum dijangkau oleh Injil.

         Penulis buku ini melihat bahwa para misionaris dan penginjil memang banyak yang mengalami kesulitan. Penulis buku ini melihat ada beberapa faktor  yang menyebabkan para penginjil kesulitan adalah:

  •     Yang pertama faktor bahasa
  •      Yang ke dua faktor situasi atau keadaan/budaya yang ada di satu suku.
  •      Yang ke tiga faktor  medan

         Tetapi para penginjil percaya bahwa, Tuhan selalu memelihara mereka sehingga mereka berani pergi ke mana-mana dari dulu sampai sekarang ini. Karena Tuhan menyertai semua orang yang menyembah Dia.

  1. Tujuan dari para tokoh penerjemah pertama

    Kita tahu bahwa, tujuan dari penerjema pertama tentang firman Tuhan adalah, supaya mereka yang tidak mengerti tentang kebenaran firman itu bisa membaca alkitab dengan dalam bahasa mereka sendiri. Dengan begitu mereka membaca alkitab dengan dalam bahasa sendiri maka, para pembaca merasa bahwa Allah langsung berbicara dengan mereka. Yaitu bagaimana mereka membaca dalam firman Tuhan itu dengan bahasa mereka sendiri lalu mereka mengerti bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari bahaya Iblis dan Allah mengampuni mereka dari dosa sehingga ketiga mereka membaca itu langsung para pembaca lebih mengerti tentang perbuatan-perbuatan besar yang di lakukan oleh Allah sendiri. Dengan demikian para penerjemah juga tidak muda pekerjaan ini, karena banyak tantangan yang mereka mengadapi dan begitu penganyaan yang mereka terima tapi mereka percaya bahwa Allah selalu menyertai mereka. Diantaranya adalah, sesudah 700 tahun sm, John Wyclife dengan teman-temanya menerjekan dengan dalam bahasa inggris tapi pemimpin-pemimpin Agama mentang mereka.  Namun John wycliffe  menyelesaikan terjemahan pertama seluru Alkitab dalam bahasa inggris tahun 1388. orang-orang menyalin alkitab dengan secara sembunyi karena takut kepada pemimpin-pemimpin Agama. Kemudian pemimpin-pemimpin itu menangkap kepada orang penerjemahan Alkitab dalam bahasa inggris itu dan di ikat dengan sebuah tiang di bakar hidup-hidup. Beberapa waktu kemudian John Wycliffe telah meninggal lalu mereka kubur tapi pemimpin-pemimpin itu menggali tulang-tulangnya membakar serta membuang abunya ke sungai. Kira-kira 100 tahun kemudian seorang yang bernama Tyndale mulai membuat penerjemahan alkitab dalam bahasa inggris yang baru, namun karena pemimpin-pemimpin gereja menentang dia sehingga ia pergike  jerman. Dia pergi ke jerman dan ia menerjemakan disana lalu orang ketemu dia lalu tanggap dan kasi masuk di pencara. Setelah satu setenga tahun kemudian mencekik dia lalu mengikat mayatnya pada tiang lalu mereka bakar mayatnya. Setelah itu William Carey adalah  seorang pembuat  sepatu dari inggris pergi ke India dan ia tugas sebagai misionaris disana. Kemudian Tuhan memberikan talen yang luar biasa sehingga  ia menerjemakan alkitab  beberapa bahasa  yang ada di India. Jadi  toko para penerjemah itu mereka banyak yang diksiksa dianyaya tapi mereka tidak meninggalkan panggilan Tuhan.

 Karena mereka percaya bahwa, Tuhan selalu senantiasa menyertai mereka dengan sejarah luar biasa, sehingga orang -orang  selalu mengalangi tentang jalanya penterjemah  itu  mereka tidak takut dan tidak meninggalkan panggilan itu. 

  1. Alasan dari tokoh penerjemah

Alasan mereka adalah, karena Injil adalah kekuatan Allah jadi, ia mampu meroba pirilaku-pirilaku hidup manusia itu menjadi kebenaran sehingga para toko peneterjemah mau supaya firman Tuhan itu harus menterjemakan ke dalam masing-masing suku atau bahasa. Supaya setiap orang membaca firman Tuhan itu dengan bahasa mereka sendiri sehingga mereka mengerti firman Tuhan dengan jelas.

  1. Tujuan dari Penerjemah

      Tujuan mereka adalah, supaya setiap orang menerima firman Tuhan itu dengan bahasa mereka sendiri supaya mereka muda di terima dan muda di mengerti oleh setiap orang supaya, mereke menerima keselamatan itu sejarah pribadi dalam kehidupan mereka supaya ketika Tuhan Yesus datang tidak menghukum mereka tapi Tuhan mengkat mereka sebagai anak-anakNya. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Orang-orang D alam P rogram P enerjemahan B ahasa Lik

 

         Setiap kegiatan atau, setiap proyek ataupun setiap progaram kerja biasanya  didalamnya ada lebih dari satu orang. Tujuanya supaya dalam kegiatan itu kita bisa kerja dengan baik dan saling memberi masukkan masing-masing ide ataupun pendapat. Demikian juga penulis buku ini dan ketiga kawan-kawan memulai program penerjemahan  bahasa Lik ini,  sudah tentu memikirkan dan sudah memilih sekitar empat orang di sentani dan empat orang di kampung.

 Tujuan dari pada empat orang di sentani :

         Di sentani empat orang ini, tujuanya supaya bisa memberi semangat satu dengan yang lain, saling memeriksa pekerjaan satu dengan yang lain, dan membuat terjemahan balik untuk satu sama lain. Supaya tiap-tiap  penerjemah bisa menerjemahkan kitab-kitab yang masing-masing berbeda supaya program ini bisa lebih cepat.  Penulis buku ini dan kawan-kawan sekitar empat orang ini, langsung bekerja di komputer yaitu melalui program A dapt, yaitu mengambil dari bahasa sumber  yaitu dari bahasa Ketengban. Bahasa Ketengban adalah satu rumpun dari bahasa Lik namun sedikit berbeda antara bahasa Lik ke bahasa Ketengban, sehingga empat orang ini yang kerja melalui buku A dapt di sentani.

Tujuan dari pada empat orang di kampung :

         Empat orang di kampung tujuannya supaya mereka memeriksa ulang dan membaca semua konsep terjemahan dan memberikan pendapat dan nasihat dalam suatu perbaikan. Orang-orang ini penting sekali, karena  ketika penerjemahan itu selesai nantinya mereka yang akan membacakan kitab-kitab dalam hasil penerjemahan itu. Oleh sebab itu mereka yang tinggal di lapangan atau di Eipomek harus terlibat dalam pemeriksaan ulang. Karena penerjemahan itu terlalu berat kalau hanya satu orang saja yang bekerja. Kalau masyarakat setempat terlibat dalam program penerjemahan atau juga ikut mengoreksi ulang maka hasil penerjemahan itu, mereka akan lebih banyak memakai hasil terjemahan itu dari pada kalau tidak terlibat sama sekali.

Dengan demikian masyarakat dan gereja bisa menentukan apakah hasil penerjemahan itu bisa di terima atau tidak.

 

A. Panit i a dan  K elompok P enerjemahan

         Setiap kegiatan pasti ada panitia penyelenggara, karena membentuk panitia bisa menyukseskan suatu kegiatan yang akan berlangsun. Panitialah yang bertanggung-jawab untuk kegiatan itu dan dia juga terlibat dalam mencukupi seluruh perlengkapan kegiatan tersebut. Dengan demikian penerjemah bahasa Lik ini dan kawan-kawan juga sudah membentuk suatu panitia kecil untuk penerjemahan bahasa Lik ini.  Didalmanya  ada banyak orang lagi yang bekerja. Beberapa orang diantaranya adalah:

  1. Panitia penerjemahan
  2. Tukang ketik
  3. Orang yang mengecek atau mencoba terjemahan
  4.  periksa ulang
  5. membuat terjemahan balik bebas
  6. pelukis

 Adapun masing-masing Tugas adalah:

  • Tugas panitia Penerjemahan,

          Yang pertama yaitu memilih dan mengangkat penerjemah, memeriksa ulang orang yang mengecek dan orang lain yang terlibat dalam program bahasa Lik. Berhubungan terus dengan Gereja-gereja di Eipomek dan  membantu mereka  terlibat dalam pekerjaan itu. Tujuanya adalah mendorong orang-orang Eipomek supaya mereka selalu berdoa bagi pekerjaan penerjemahan itu agar berjalan dengan baik dan hasilnya pun bagus. Kemudian tujuan membentuk panitia adalah supaya mencari dana bagi program dan mengawasi bagaimana uang itu di pakai. Tujuan lain adalah supaya membantu memeriksa penerjemah dan menentukan bentuk hasil terjemahan mana yang paling bagus. Membantu menyiapkan gambar-gambar dan hal-hal untuk di cetak dan menerbitkan terjemahan Alkitab. Membantu mendorong pembagian kitab suci dan pemakaiannya.

  • Tukang ketik

       Panitia penerjemahan bahasa lik juga sudah tentu menyiapkan tukang ketik untuk mengetik terjemahan di dalam komputer. Yang di ketik terjemahan dan salinan atau fotokopi untuk di periksa dan di coba. Memeriksa dan memperbaiki ejaan, format dan lain-lain seperti itu. Mengetik hal-hal yang telah di perbaiki oleh penerjemah dan orang yang memeriksa atau menguji terjemahan. Kemudian mengurus dan menyimpan arsip-arsip juga dengan baik supaya aman.

  • Tugas seorang pengecek/ Evaluasi

         Ada hal lain lagi yang di siapkan oleh panita penerjemahan bahasa Lik adalah, seorang pengecek. Ini adalah untuk membawa konsep pertama kepada orang-orang di kampung untuk mencari tahu apakah mereka bisa mengerti terjemahan itu dengan jelas dan tepat. Karena pengecek membaca terjemahan itu kepada orang-orang yang punya latar belakang yang berbeda-beda seperti orang dari Gereja-gereja setempat entah itu muda, tua dll. Seorang pengecek ini  harus menasihati mereka untuk memperbaiki terjemahan itu supaya lebih jelas, tepat dan wajar.

 

  • Periksa ulang

         Pemeriksa ulang ini, membaca semua konsep terjemahan bahasa Lik dan memberikan pendapat untuk perbaikan. Panitia penerjemahan bahasa Lik memilih 4-8 orang sebagai pemeriksa ulang. Seorang pemeriksa ulang memberikan waktu dan usaha untuk program peterjemakan. 4-8 orang ini berasal dari berbagai latar belakang diantaranya; orang tua muda, orang yang berpendidikan, atau orang yang sama sekali tidak berpendidikan dll. Dengan begitu mereka bisa berbahasa daerah dengan baik dan bisa menyampaikan pendapat mereka dengan baik.

  • Pembuat Terjemahan balik bebas

         Panitia penyelenggara program penerjemahan bahasa Lik juga menyiapkan seorang penerjemahan balik bebas yaitu terjemahan kembali dari bahasa sasaran ke bahasa sumber supaya konsultan  dapat mengerti bahasa sumber itu dan bisa memeriksa apakah terjemahan itu tepat atau tidak. Sesuai dengan Alkitab atau tidak.

  • Pelukis

          Ada juga panitia penerjemahan bahasa Lik yang mempersiapkan seorang pelukis yang bisa membuat gamabar-gambar. Yaitu gambar-gambar dalam Alkitab, gambar Yesus, dan gambar seperti rasul Paulus serta gambar-gambar tokoh-tokoh Alkitab. Bisa juga gambar hewan serta tanaman-tanaman agar masyarakat mereka bisa mengenal dan bisa buka pikiran walaupun mereka tidak melihat langsung

         Jadi disini ada beberapa hal yang sudah dijalankan dari panitia penyelenggara tim penerjemahan bahasa Lik ini supaya pekerjaan itu tetap berjalan. Kalau hanya satu, dua orang saja maka, susah untuk menyelesaikan tetapi  dengan bekerja lebih dari satu orang maka bisa berjalan dengan baik. Dengan demikian penulis buku ini dan kawan-kawan sudah melakukan beberapa hal diatas, dimana ini sangat menolong dan bisa dikerjakan dengan baik. Karena setiap penerjemahan Alkitab di lakukan kurang lebih 15-25 Tahun baru dapat selesai. Tim penerjemah bahasa Lik ini mulai dari tahun 2008 sampai tahun 2011 ini hampir selesai di kitab Perjanjian Baru jadi ini semua karena kerja sama dan saling membantu satu dengan yang lain dalam kekurang-kekurangan. Ini juga tak lepas dari  dorongan-dorongan semua pihak baik itu sponsor dan konsultan sehingga penerjemahan bahasa Lik ini bisa berjalan dengan baik.

 

  1. Budaya dan Penerjemahan

         Kita tahu bahwa Allah menciptakan kita sebagai makhluk  yang memerlukan budaya. Budaya kita mengajarkan tentang hal-hal yang kita perlukan untuk hidup di dunia ini. Budaya kita mengajarkan banyak hal. Walaupun kita bisa tinggal di budaya yang lain kita masih tetap mempertahankan banyak hal yang ada dalam budaya kita seperti, pikiran-pikiran dan budaya kita. Dengan demikian penulis buku ini dan kawan-kawan mau menerjemahkan bahasa Lik  kerena melihat banyaknya perbedaan-perbedaan dalam budaya. Oleh karena itu, ketika tim Lik mau menerjemakan Alkitab dalam bahasa Lik ke bahasa yang lain, yaitu dari Eipomek ke Sentani. Ini merupakan suatu bagian dari budaya-budaya yang berbeda.  Walaupun Eipomek dan sentani adalah satu pulau dan satu provinsi namun karena sentani berada di daerah pesisir pantai dan Eipomek berada di daerah gunung maka berbeda juga budaya dan bahasanya. Dengan begitu  penerjemah harus mengganti cara berpikir dari budaya yang satu ke budaya yang lain. Seperti  pindah dari negara yang satu ke negara yang lain, atau pindah dari cara hidup yang satu ke cara hidup yang lain. Dengan demikian penerjemah bahasa Lik banyak sekali berpikir mengenai budaya gaya bahasa dan cara hidup.

         Ada dua hal yang dilakukan tim Lik, yaitu:

Yang pertama

Penerjemah bahasa Lik berpikir mengenai budaya Eipomek dan sentani serta budaya yang ada di palestina yang berhubungan dengan kata-kata yang sedang terjemahkan  ke bahasa Lik Eipomek.  Apa artinya kata-kata itu waktu di pakai? Karena tidak cukup kalau hanya mengetahui sedikit saja mengenai kata-kata itu. Ada kata yang mempunyai banyak arti yang berhubungan dengan banyak bagian dari suatu budaya. Beberapa ide atau pikiran sama dengan yang ada dalam budaya penerjemah, tapi ada sebagian yang berbeda.

 Yang kedua,

         Penerjemah bahasa Lik juga banyak berpikir mengenai budayanya, waktu penerjemahan dalam bahasa Lik itu. Oleh karena itu penerjemah juga berpikir apakah ini sudah dimengerti atau belum. Ataukah cerita itu berdasarkan dengan hasil budaya dari sumber?  Alasan yang di buat tim penerjemah bahasa Lik adalah untuk dapat mengerti dengan jelas tentang suatu cerita firman Tuhan. Hal itu di lakukan dengan menanyakan kepada orang lain yang mengerti budaya sumber itu dan mencari keterangan dari buku-buku pedoman kebudayaan. Karena kalau tidak belajar budaya yang lain dan keadaan atau iklim yang lain maka pasti isi terjemahan dalam Alkitab ada yang tidak sesuai jika penerjemah hanya belajar budaya di daerahnya saja. Oleh karena itu biasanya seorang penerjemah dari setiap suku harus menulis dengan hasil dari bahasa sumber.  Penerjemah bahasa Lik juga sudah berpikir bahwa, bukan saja belajar budaya orang lain tetapi dengan budaya sendiri bisa membuka pikiran dan lebih memajukan penerjemahan itu sendiri.

         Namun, budaya juga bisa mengajarkan kita beberapa hal yang tidak benar. Ada ajaran budaya yang jahat, karena itu budaya kita kadang-kadang punya hal-hal yang tidak baik juga. Budaya kita sangat mempengaruhi kita sampai-sampai kita tidak mau lagi mendengar Allah.  Karena inilah kita kadang-kadang sewaktu membaca Alkitab kita membawa pikiran dari budaya kita. Dan budaya memberikan kita pikiran yang salah waktu kita menerjemakan Alkitab. Oleh karena itu waktu membaca Alkitab dan menerjemahkan seharusnya membaca dengan pikiran yang bersih. Penerjemahan bahasa Lik ini juga melakukan hal itu, yaitu dengan berpedoman pada buku-buku budaya dan keadaan suatu deaerah sehingga bisa memilih kata mana yang layak di pakai dan mana yang tidak layak untuk pakai. Kalau tidak cermat dan baik maka pasti ada masalah dalam Alkitab yang diterjemahkan sehingga budaya lebih banyak dari pada mengenai kebenaran firman Tuhan apabila penerjemah selalu berfokus belajar budaya saja. Oleh sebab itu penerjemah mempelajari budaya dan juga membaca serta menerjemahkan ke dalam Alkitab bahasa Lik  yang mana  baik dan mana yang tidak cocok untuk di terjemahkan. Supaya ketika Alkitab sudah distribusikan kepada para pembaca dan digunakan mereka tidak belajar tentang budaya tapi mereka belajar dan mengajar tentang firman Tuhan kepada masyarakat. Walaupun begitu, budaya juga perlu karena kita bisa memperoleh banyak pengetahuan dan banyak ilmu dari budaya yang satu dengan budaya yang lain. Oleh sebab itu budaya dan kerohanian berjalan bersama supaya hidup kita di bumi ini berjalan juga dengan baik.

 

 C. Syarat- syarat Penerjemahan.

         Setiap pekerjaan di bidang politik/pemerintaan maupun bidang keagamaan mempunyai peraturan dan juga persyaratannya supaya jelas identitas setiap pribadi. Biasanya di bagian pemerintaan mereka memeriksa kesehatan, perbuatan baik dari pihak kepolisian dan juga pihak Gereja serta memeriksa tentang kehidupannya baik jasmani maupun rohani.  Demikan juga dalam bidang kerohanian setiap orang di tunjuk untuk melayani jemaat Tuhan harus memiliki persyaratan seperti, mengenai sifatnya dan mentalnya dalam menghadapi tantangan di dalam pelayanan itu. Dengan demikian, panitia penerjemahan bahasa Lik juga sudah melakukan hal seperti itu. Yaitu kepada orang-orang yang bekerja dibagian penerjemahan di Sentani maupun dibagian pemeriksaan tim yang ada di kampung memakai beberapa persyaratan sebagai berikut:

  • Yang pertama, orang yang di tunjuk sebagai penerjemah maupun pemeriksa  harus yakin bahwa, Allah memanggil dia untuk melakukan pekerjaan ini. Yaitu menjadi  penerjemah maupun masuk dalam  bagian pengoreksi/pemeriksaan di kampung.
  • Yang ke dua, orang-orang ini, harus seorang Kristen yang dewasa, sehingga ketika mereka bertemu dengan masyarakat disana mereka dapat menghormati dan bisa menerima dengan baik. Artinya, orang-orang ini harus menguasai Alkitab dan semua isi Alkitab bisa dimengerti dan apa yang mereka kerjakan dengan tujuan suapaya orang di sana bisa membaca dan mengerti lalu mereka bisa memakai hasil penerjemahan itu.
  • Yang ketiga, orang-orang itu juga harus mengetahui bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta belajar memakai buku-buku untuk membantu mereka menerjemahkan itu. Tujuan dari semua ini adalah supaya mereka dapat membedakan mana yang harus di terjemahkan dan mana yang tidak layak untuk pakai. Kemudian mereka juga berbicara dengan bahasa ibu dan mengetahui budaya setempat dengan baik. Tujuannya agar mereka tidak ragu-ragu tetapi mereka dengan yakin bisa menerjemahkan dengan baik. Orang yang sudah lama tinggal di kota atau di kampung lain tidak di pilih lagi karena ia pasti sudah lupa bahasanya. Kalau orang seperti itu pasti akan menerjemahkan dengan sulit. Oleh karena itu penerjemah harus memilih orang yang mengetahui bahasa daerah serta budaya dan bahasa Indonesia. Agar ketika menerjemakan bisa dengan lincah dan pintar  ketika harus bercerita sehingga  para membaca maupun para pendengar bisa menerima dengan baik.
  • Yang ke empat, yang terakhir di sini adalah, panitia penyelenggara penerjemahan bahasa Lik. Yaitu harus memperhatikan orang-orang yang merekrut ini. Yaitu mereka memilih orang yang penuh bertanggung jawab dan “Tahan banting,” walaupun ada banyak masalah dan pekerjaan  yang berjalan lambat.

Artinya mereka harus rendah hati dan mau menerima pendapat orang lain, dan juga harus percaya diri dan tidak mudah marah dengan pendapat atau kritik dari orang lain.

         Jadi seorang penerjemah adalah orang yang mampu menghadapi tantangan dan masalah. Dengan demikian orang tersebut harus benar-benar percaya kepada Tuhan supaya ketika mereka mengadapi masalah mereka tidak meninggalkan pekerjaan itu tetapi mereka siap menghadapi masalah itu. Penulis buku ini melihat bahwa, memang benar seorang penerjemah akan banyak mengadapi masalah dan banyak juga penderitaan walaupun itu adalah pekerjaan Tuhan. Penerjemahan juga bukan pekerjaan mudah tetapi berat. Banyak tantangan yang sudah di alami selama pekerjaan penerjemahan bahasa Lik ini sehingga penulis buku ini mengharapkan supaya kedepan para penerjemah bekerja dengan kekompakan dan berpartisipasi supaya bisa menghadapi masalah itu bersama semua tim yang ada. Kalau yang bekerja hanya satu atau dua orang dan bekerja masing-masing maka akan sulit untuk menyelesaikan masalah dan juga susah untuk menyelesaikan pekerjan penerjemahan bahasa Lik ini.

         Kemudian dari tim Lik  juga mengharapkan supaya para pembaca harus membaca dengan benar dan menyampaikan firman Tuhan itu kepada masyarakat supaya iman kepercayaan itu bisa bertahan dan berjalan dengan baik dalam pertumbuhan imannya. Salah satu faktor kendala yang menyebabkan masyarakat selama puluhan tahun adalah faktor bahasa. Bahasa yang selama ini bukan bahasa asli tetapi bahasa tetangga yaitu, bahasa Ketengban, sehingga setiap hamba Tuhan yang mau menyampaikan kebenaran firman Tuhan itu harus membaca dalam buku Ketengban dahulu kemudian baru di terjemahkan kedalam bahasa Lik. Demikian juga tentang menyanyi dalam bahasa daerah juga masih memakai bahasa Ketengban. Karena dari bahasa Ketengban sudah ada buku puji-pujian tapi sementara bahasa Lik sendiri belum ada. Jadi memang sulit untuk di mengerti secara langsung dalam membaca buku bahasa Ketengban. Walaupun begitu mereka bisa membaca dengan pelan dan menyampaikannya kepada jemaat supaya bisa di terima dengan baik. Dengan hal seperti ini membuat penulis buku ini dan kawan-kawan berusaha semaksimal mungkin supaya cepat atau lambat penerjemahan buku bahasa Lik ini harus cepat selesai dan mereka bisa memegang Alkitab itu dengan bahasa mereka sendiri.

 

D. Membuat Rencana dan kerja

         Sebelum melakukan tugas program ataupun proyek pembangunan dan kegiatan lain pastilah ada perencanaan. Rencana ini dimaksudkan supaya ada aturan dan ada persiapan khusus untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam pekerjaan tertentu. Kalau tidak ada rencana dan persiapan maka pasti banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pekerjaan atau proyek pembangunan apapun juga. Tim penerjemah bahasa Lik sudah tentu membuat rencana kerja tentang bahasa penerjemahan daerah. Hal pertama yang di lakukan oleh tim penerjemah adalah mempersiapkan penutur asli bahasa sasaran ke dalam bahasa Lik. Misalnya Injil Lukas  adalah penutur asli dari  bahasa  Lik  artinya, bahasa Lik itu bahasa ibu. Penulis buku ini sendiri menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Lik. Ini artinya penulis buku ini membuat penerjemahan bahasa ibu sendiri. Bahasa sasaran berarti penulis menerjemahakan, seperti contoh diatas  bahwa bahasa Lik adalah bahasa sasaran.

         Penerjemah menerjemahkan dari bahasa Ketengban ataupun bahasa Indonesia. Kalau penerjemah mengetahui bahasa Ibrani atau bahasa Yunani berarti bahasa ini adalah bahasa dari sumber. Dengan demikian penerjemah sudah tentu berpikir mengenai banyak hal untuk memutuskan apakah pekerjaan menerjemahkan itu perlu di buat atau tidak. Kemudian di mana saja bahasa sasaran itu akan dipakai yaitu berapa wilayah atau daerah dan berapa pos atau beberapa desa yang harus memakai. Bahasa yang lain yang mungkin ada hubungan dekat dengan bahasa sasaran dan apakah mereka sangat mirip atau tidak dan apakah bahasa sasaran itu punya logat-logat atau tidak.  Karena logat-logat itu  bisa saja penting atau juga tidak untuk orang-orang yang berbicara logat-logat itu. Bagaimana pendapat orang-orang mengenai rencana untuk menerjemahkan bahasa Lik di daerah. Kemudian orang-orang yang tinggal di daerah Eipomek itu suka membaca dan menulis dalam bahasa sendiri atau tidak. Hal inilah menjadi pertimbangan tim penerjemah bahasa Lik. Ada juga yang memerlukan dukungan dan persetujuan dari masyarakat Eipomek sendiri yaitu penerjemahan bahasa Lik itu. Alasanya karena orang-orang disana apakah mereka setuju atau tidak. Kemudian juga harus dipastikan beberapa orang yang akan menerjemahkan bahasa Lik itu. Dan harus dipikirkan juga bagaimana pemimpin-pemimpin Gereja di sana mendukung dan mendorong parsitipasi dari semua pemimpin dan elemen masyarakat supaya program itu berjalan lancar dan baik sehingga hasilnya juga baik dan cukup memuaskan. Alasan ini agar pemimpin-pemimpin juga membantu dana dalam penerjemahan bahasa Lik. Kemudian hal lain adalah supaya pemimpin disana juga memilih orang yang pintar bahasa daerah dan bahasa Indonesia.  Orang yang pintar dan sudah selesai pendidikan yang lebih tinggi agar memudahkan dan meminimalisasikan kesalahan penulisan. Kemudian ia juga bisa bertanggung jawab dalam menerjemahkan. Ketika ia sudah menerjemahkan dari bahasa asli ke bahasa sasaran dengan tujuan supaya orang-orang mengetahui bahasa sasaran dan akan menerima dengan baik. Kemudian ia juga menerjemahkan dari bahasa sasaran ke bahasa sumber, yaitu bahasa daerah ke bahasa Indonesia supaya konsultan dan orang yang tidak tahu bahasa daerah itu mereka akhirnya bisa mengetahui. Ada hal lain yang penerjemah dan panitia persiapkan  dalam perencanan ini adalah pelatihan khusus untuk penerjemahan. Juga membuat rencana dan tujuan kerja, yaitu apa yang harus di lakukan supaya tim penerjemah bisa memakai waktu dengan benar dan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Karena dengan begitu tim penerjemah mempunyai langkah-langkah yang teratur untuk bekerja dengan baik dan sempurna. Tim di kampung yang memeriksa juga harus tahu mengenai tujuan dan tugas mereka dan bisa bekerja sama dengan baik. Mereka juga harus mengikuti  aturan yang di buat oleh panitia penerjemah supaya bisa bekerja dengan tertib dan rapi. Disini mereka juga belajar kedisiplinan waktu dan kerajinan dalam bekerja. Karena kebanyakan di kampung mereka tidak mengatur waktu sehingga banyak waktu yang terbuang dan banyak juga yang tidak bekerja, karena itu tim penerjemah ini sudah membuat rencana yang baik dan mempersiapkan dengan matang semuanya demi sebuah kelancaran.  Kemudian penulis buku ini dengan kawan-kawan mengadakan pembicaraan dengan pemimpin-pemimpin disana yaitu, pemimpin gereja maupun kepala kampung untuk membentuk panitia penerjemahan. Setelah membentuk panitia itu penerjemah dan kawan-kawan membicaran tentang waktu dan penyelenggaraan penerjemahan bahasa Lik, Suku mek, distrik Eipomek & distrik Pamek Kabupaten Peng-bin. Dengan cara ini maka pihak panitia dan pihak penerjemahan serta pemimpin sepakat untuk waktu pelaksanaan, waktu selesai serta, waktu distribusi hasil penerjemahan itu. Jadi perencanaan pekerjaan ini sudah di buat sebelum melaksanakan tugas ini.

 

 

 E. Pelatihan Penerjemahan Bahasa Ibu

         Pelatihan  adalah proses kegiatan atau pekerjaan untuk mempersiapkan peserta latihan untuk mengambil tindakan tertentu yang di lukiskan oleh tekhnologi dan organisasi tempat bekerja. Tujuan pelatihan adalah supaya membantu peserta memperbaiki perestasi, dalam kegiatannya terutama mengenai pengertian dan keterampilan.  Kemudian pelatihan adalah perkembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tiada batas waktunya. Mengingat di tangan sumber daya manusia yang handal dan  berkualitas, sehingga seseorang harus ikut pelatihan dan mampu terus bertumbuh dan berkembang. Dengan demikian pelatihan mengenai penerjemahan Alkitab bahasa Lik yang di lakukan selama 3 minggu di sentani bertempat di kantor Sil Tahun 2009 bulan juni minggu pertama sampai minggu ke tiga. Pelatihan ini dimaksudkan supaya penerjemah benar-benar mengerti bagaimana cara untuk cepat menerjemahkan bahasa Lik dengan tepat, jelas, serta dengan wajar. Dengan tujuan ini jugalah, penerjemah Alkitab yang bagus perlu mengetahui tentang Alkitab, budaya dan orang-orang yang di ceritakan dalam Alkitab dan juga punya kemampuan untuk mempelajari Alkitab dalam bahasa sendiri.  Pelatihan ini juga di sebut Kursus atau disebut juga loka karya ini yang di maksudkan supaya belajar penerjemahan dasar termasuk pelatihan mengenai bagaimana mengatur program pelajaran dan cara menerjemahkan, latihan menulis dan memakai ejaan. Pada waktu pelatihan ini,  mereka bekerja dengan konsultan dan sekalikus belajar dari dia selama tiga minggu. Bersama juga beberapa orang penerjemah bahasa Lik ini mereka sekaligus di latih memeriksa ulang dan belajar cara bagaimana memperbaiki cara kerja kelompok penerjemahan.

         penerjemahan ini, disebut tingkat menengah, termasuk di dalamnya melatih bagaimana mengatasi maslah-masalah dalam penerjemahan dan latihan penerjemahan lanjutan.

         Untuk menerjemahkan buku-buku tertentu penerjemah bekerja sama dengan konsultan yang mana di dalam uaraian tersebut menceritakan mengenai masalah yang terjadi di masyarakat itu dari awal sampai selesai. Termasuk berlatih bagaimana mempelajari arti menerjemahkan cerita itu apakah artinya sudah tepat atau belum. Jadi pada saat ikut pelatihan ini harus banyak hal yang dilakukan sehingga bisa mengetahui secara jelas penerjemahan itu.

         Tim penerjemah dan konsultan yang sudah ikut pelatihan di sentani itu bukan saja latihan tentang penerjemahan Alkitab saja tapi juga tentang lagu-lagu pujian bahasa daerah supaya mereka yang tinggal di kampung bisa menyanyi dengan bahasa daerah. Alasannya karena di kampung tidak terlalu banyak mengerti bahasa lain. Ada yang memakai  bahasa Indonesia sehingga pujian-pujian juga harus diterjemahkan dengan bahasa yang mereka pakai supaya mereka mudah untuk mengerti dengan jelas.

         Kemudian setelah ikut pelatihan itu penerjemah dan kawan-kawan juga memberi pelatihan kepada tim yang ada di kampung. Yaitu mereka yang akan memeriksa atau mengecek hasil penerjemahan itu.

         Walaupun ikut pelatihan hanya selama satu minggu saja sudah dapat membuka wawasan mereka untuk mengoreksi hasil penerjemahan itu  secara wajar dan tepat. Sebab kalau tidak pernah ikut pelatihan maka pasti penerjamah sudah menerjemahkan dengan pikiran akan baik tetapi setelah pengecekan ini akan ada koreksi yang salah. Sehingga tim Lik ini sebelum memulai penerjamahan, terlebih dahulu memberi latihan anggota tim yang ada di kampung. Ada alasan yang membuat penerjemah ingin  melatih kepada tim di kampung walaupun itu bahasa mereka. Karena Alkitab ditulis untuk alasan atau keadaan tertentu sehingga penerjemah menulis tetapi kadang para pembaca sulit mengerti karena keadaan dan kondisi sekarang ini berbeda dengan keadaan yang pada waktu Rasul Paulus & Tuhan Yesus. Karena  itu ada banyak orang yang salah menafsir dan akhirnya salah berkhotbah. Contonya dalam II Korintus sebenarnya Paulus menulis mengenai hal-hal yang dahulu ia temukan waktu ia bersama-sama dengan orang-orang di Korintus. Hal-hal yang ia dahulu tulis untuk orang-orang Korintus  mengenai rasa tidak senang dari orang Korintus terhadap paulus. Orang-orang pada waktu itu mengetahui apa maksud Paulus, karena mereka berada pada situasi saat itu. Tetapi orang-orang sekarang ini sudah tidak tahu lagi dan harus membaca surat itu dengan teliti supaya bisa menarik kesimpulan mengenai apa yang paulus maksud itu. Oleh sebab itu panitia serta penerjemah dan kawan-kawan juga sudah memberi latihan kepada tim yang ada di kampung supaya mereka juga bisa mengerti keadaan yang pada saat tokoh Alkitab itu berada dengan keadaan sekarang ini dimana kita tingggal. Hal ini akan sangat menolong untuk penerjemahan suatu bahasa daerah termasuk juga bagi tim penerjemahan bahasa Lik.

 

F. Mencari I nformasi untuk M enerjemahkan dengan B aik

         Terkadang sewaktu orang membaca Alkitab mereka berpikir Alkitab itu di tulis hanya untuk kita yang hidup sekarang ini saja. Terkadang juga para pembaca tidak mengerti pesan-pesan yang ada dalam Alkitab. Mereka tidak mengerti karena Alkitab itu di tulis sudah lama sekali. Oleh sebab itu sebagai penerjemah harus berpikir baik-baik mengenai orang-orang pada zaman dahulu yang pertama kali mendengar pesan-pesan Alkitab itu. Siapakah mereka itu? Sesudah penerjemah mengerti jawabannya, lalu penerjemah bertanya kepada diri sendiri. Bagaimana bisa kita sama seperti mereka? Apakah kita juga punya masalah yang sama seperti mereka? Apakah yang Allah katakan kepada kita melalui pesan-pesan itu?

         Jadi seorang penerjemah harus membaca mengenai pemungut pajak, orang Farisi atau Kaisar waktu zaman Yesus dulu. Seorang penerjemah harus mendapatkan informasi dari Ensiklopedi Alkitab. Mempelajari sebanyak mungkin mengenai mereka, dan juga mempejari tentang Yesus pada waktu Ia melayani di Palestina. Penerjemah harus menanyakan diri sendiri, mengenai mengapa Yesus bicara kepada mereka demikian? Bagaimanakah orang-orang yang tinggal sekarang ini apakah berbeda dari mereka?  Apa yang dapat kita pelajari dari ayat-ayat ini untuk hidup kita sekarang ini? Jadi penerjemah belajar dengan baik tentang arti yang benar. Apa yang Allah ingin orang-orang mengerti waktu pertama kali Dia mengatakan pesan itu kepada  mereka. Kalau penerjemah bahasa Lik tidak mengerti orang-orang dan pemerintah pada waktu zaman Yesus maka pasti penerjemah akan salah mengartikan arti pesan Alkitab itu. Dengan demikian para penerjemah bahasa Lik berusaha belajar semaksimal mungkin supaya banyak informasi dari mengenai latar belakangnya dari buku-buku pedoman sehingga penerjemah dapat menulis di halaman depan dari kitab yang di terjemahkan dan ini akan dapat membantu orang lain mengerti pesan dengan benar. Oleh sebab itu Gambar atau catatan kaki dan semua harus diterjemahkan dengan benar dan baik supaya orang lain bisa mengerti pesan itu dengan benar. Para penerjemah sudah mempelajari tentang memakai bahan-baha referensi yang kita sebutkan diatas seperti; garis waktu peta dan buku-buku. Kamus Alkitab, Ensiklopedi Alkitab, buku pedoman Alkitab dll. Yang mana berisi informasi mengenai orang-orang dan kejadian-kejadian dalam Alkitab. Jadi misalnya tim penerjemah bahasa Lik menerjemahkan tentang surat-surat Paulus berarti penerjemah belajar kapan ditulis dan untuk apa ia menulis dan ia menulis untuk siapa. Karena dalam Alkitab Perjanjian Baru banyak surat dari Paulus kepada jemaat yang tinggal di kota yang berbeda-beda. Jadi sekali lagi penerjemah harus mengerti keadaan di tiap tempat dan bagaimana orang-orangnya. Misalya Paulus memakai kata 'Hukum,' yang dimaksud adalah bukan hukum kita di Indonesia sekarang tetapi, yang dia maksud adalah, hukum yang Allah berikan kepada Musa.

Alkitab tidak langsung berbicara mengenai adat istiadat itu namun Alkitab banyak berbicara mengenai adat istiadat pada waktu zaman Alkitab. Perlunya mengerti upacara adat istiadat  juga memudahkan  dalam menerjemahkan dengan baik dan benar. Misalnya ketika penulis buku ini dan para penerjemah bahasa Lik mau menerjemahkan dari bahasa sumber  yaitu, bahasa Ketengban ke bahasa Lik yupu, pilih salah satu surat Paulus yaitu dalam buku 1 Korintus  misalnya:

  • Apakah Paulus menulis untuk jemaat Korintus itu memang di tujukan kepada orang Yahudi atau bukan kepada orang Yahudi ?
  • latar belakang tempat itu seperti apa ?
  • Bagaimana adat dan agama dari orang-orang disitu ?
  • Apa yang menjadi masalah di kota atau tempat itu ?
  • Apakah tempat itu mirip dengan tempat para penerjemah misalnya di Eipomek ?

          Dengan alasan seperti diatas ini, maka para penerjemah mempelajari berbagai informasi untuk menerjemahkan bahasa Lik. Karena kalau para penerjemah tidak baca informasi maka, pasti salah menerjemahkan tentang waktu dan tempat, serta di tunjukan kepada siapa. Oleh sebab itu para penerjemah juga sudah belajar dan harus membaca banyak buku tentang informasi-informasi keadaan Paulus dan pelayanan Tuhan Yesus. Membaca dengan teliti pasti akan menghasilkan terjemahan yang juga jelas, tepat dan wajar. Di pedalaman papua lebih khususnya di daerah Eipomek susah untuk mengerti kalau tidak dijelaskan dengan baik. Karena di sana Majelis ataupun warga jemaat rata-rata  tidak pernah duduk di bangku pendidikan, hanya seorang Gembala saja pernah belajar tapi itu juga Buta huruf ( BH ).  Jadi memang susah untuk menafsirkan lebih jauh ke dalam. Dengan begitu maka penulis buku ini dan kawan-kawan sudah mencoba menjelaskan semua isi Alkitab itu dan sudah memberi kemudahan supaya mereka mudah di memahami gambar-gambar dan catatan kaki sehingga bisa membantu untuk membaca dan mengerti pesan-pesan Alkitab itu dengan benar.

 

  1. Alkitab itu adalah cerita mengenai Allah

         Alkitab itu cerita mengenai Allah, jadi siapa sebenarnya Allah? Alkitab mencatat bahwa Allah yang menciptakan kita karena Ia mengasihi kita,  Dia mau supaya kita mempunyai hubungan dengan Dia sebagai satu keluarga. Dalam Alkitab, Allah berbicara kepada kita mengenai sifat-sifatNya, apa rencana-Nya untuk semua orang dan bagaimana Dia  sangat mengasihi kita semua. Allah mengundang kita untuk menjadi anak-anak-Nya dan Dia akan memelihara kita. Seperti seorang Ayah yang sangat mengasihi kepada anak.

         Allah membuat persetujuan dan perjanjian dengan hamba-hamba-Nya. Kalau orang dengan sungguh-sungguh mendengar dan percaya apa yang dikatakan Allah berarti orang itu mentaati perjanjian Allah itu. Mereka setuju bahwa, apa yang Allah katakan  itu benar maka penerjemah bahasa Lik membaca dengan baik macam-macam janji Allah itu. Karena di dalam Perjanjian Lama Allah berbicara kepada anak-anak-Nya yaitu Nuh, Abraham dan anak-anaknya,  Musa dan orang-orang Israel, dan  juga dengan raja Daud.

         Oleh sebab itu, Allah mengirim anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus ke bumi ini untuk memenuhi janji-Nya kepada kita (Yohanes pasal 3:16). Allah mengatakan kepada kita bahwa itulah janji dan persetujuan-Nya yang baru dan yang terakhir antara Dia dan hamba-hamba-Nya. Yesus memberikan darah-Nya dan mati di kayu salib. Itulah pengorbanan yang luar biasa untuk memenuhi janji Allah. Sekarang Allah mengatakan kepada semua orang bahwa, Dia akan mengampuni kita dan membuat kita menjadi anak-anak-Nya.Yesus mendamaikan Allah Bapa dengan kita melalui pengorbanan-Nya.

         Sekarang Yesus mengundang kita untuk mempercayai apa yang Dia sudah lakukan dan menyetujui bahwa semua janji yang Dia beritakan itu benar. Janji-Nya adalah bagaimana kita menjadi saudara-saudara-Nya, bahwa Allah mengirim Roh kudus untuk datang dan hidup dalam kita. Roh kudus mengajari dan membimbing kita dengan cara-cara yang membuat Allah berkenan kepada manusia dan memberikan kita hidup yang kekal.

         Allah tidak memerintahkan orang-orang-Nya untuk menulis Alkitab sekaligus langsung jadi tetapi, selama jangka waktu ribuan tahun Dia membimbing bermacam-macam orang dari macam-macam tempat untuk menulis cerita Alkitab itu. Yang dikemudian hari, waktu orang-orang mengumpulkan cerita-cerita itu dalam satu buku, mereka tidak menyusun cerita-cerita itu sesuai dengan waktu cerita-cerita itu di tulis. Sebagai gantinya mereka menyusun cerita-cerita itu dalam beberapa kelompok, yaitu:

  1. Buku-buku hukum  diantaranya adalah: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan.
  2. Buku-buku Sejarah adalah: Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1 & 2 Samuel, 1 & 2 Raja-Raja, 1 & 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester.
  3. Buku-buku Syair : Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung.
  4. Nabi-Nabi :         Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia Maleakhi.
  5. Injil & Kisah para Rasul : Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dan Kisa para Rasul.
  6. Surat-surat: Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose,  1 & 2 Tesalonika 1 & 2 Timotus, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, 1 & Petrus, 1, 2 & 3 Yohanes, Yudas dan Wahyu.

         Jadi penting sekali waktu dan tempat-tempat dalam perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kemudian yang terpenting juga adalah sejarah keturunan yaitu, keturunan Raja-raja dari bangsa Israel. Dengan cara seperti ini masyarakat awam seperti masyarakat Lik bisa mengerti dan menolong  mereka untuk memahami.

         Penenerjemah bahasa Lik juga membuat peta dalam Alkitab yaitu: Peta mengenai zaman Abraham. Hal ini di pikirkan supaya diketahui berapa lama dia berjalan dari kampung halamannya yaitu dari Ur-kasdim ke tanah perjanjian; Peta mengenai zaman Yesus. Peta yang di mulai dari Betlehem kota kelahiran-Nya sampai tempat Ia di salibkan supaya para pembaca bisa mengerti dan mengajar orang lain.

Peta mengenai zaman paulus. Adalah mengenai semua tempat yang ia kirimkan surat dan perjalanan Paulus mulai dari yang pertama sampai yang ketiga.

         Walaupun para pembaca tidak melihat secara langsung kota-kota di daerah Palestina tapi mereka bisa mengetahui dari peta perjalanan Yesus dan Paulus. Penulis mencatat mengenai semua tempat yang Paulus kirimkan suratnya, seperti kepada jemaat di Roma, Korintus, Filipi, Kolose, Tesalonika, Galatia, Efesus dan kota-kota kecil di Efesus. Ini akan menolong para pembaca dan pendengar memahami dengan benar.

 

 

 

 

 

 

 

BAB  V

Langkah-Langkah P enerjemahan A khir

  

         Setelah im Lik menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa daerah Lik suku Mek kabupaten pegunungan bintang ini akhirnya selesai juga beberapa buku Perjanjian Baru dan akan segera dibagikan Edisi percobaan di kampung tanggal 12/3/201. Maka sebelumnya tim Lik sudah memproses beberapa hal di bawah ini:

  • Hal yang pertama adalah, memeriksa terjemahan itu sendiri.

         Alasanya adalah, apakah terjemahan ini wajar, bahasanya seperti yang di pakai orang setiap hari. Kemudian bagian-bagian utama atau penting apakah berhubungan dengan baik  dan sesuai dengan bahasa asli daerah Lik.

  • Hal yang ke dua adalah mengenai Arti yang jelas. Mungkin ada bagian-bagian yang membuat para pembaca bingung. Maka tugas para penerjemah membaca ulang hasil dari penerjemahan itu supaya jika ada hal-hal yang kurang jelas menjadi lebih jelas. Kemudian di harapkan supaya para pembaca jangan sampai salah mengeri artinya. Maka sebelum di bagikan sudah harus di periksa terlebih dahulu dari tim penerjemahan.  Kemudian para penerjemah juga jangan sampai lupa menerjemahkan suatu arti. Karena ada kemungkinan di tambahkan hal lain yang tidak ada dalam cerita sumbernya yang dapat juga mengubah suatu arti sehingga perlu sekali untuk membaca ulang hasil dari penerjemahan itu dengan baik.
  • Hal yang ketiga adalah, mengenai hal-hal yang Menarik. Apakah terjemahan ini enak di baca atau membosankan?

         Terjemahan ini berisi perasaan dan pikiran yang benar sesuai dengan cerita sumbernya. Ada juga terjemahan ini di tulis dengan gaya bahasa yang sesuai dengan orang-orang yang akan membaca hasil penerjemahan itu. Salah satu cara yang bagus untuk melakukan hal ini adalah membaca ulang dan memeriksanya ulang supaya dapat di pastikan bahwa hasil penerjemahan itu sudah bisa distribuskan kepada masyarakat sehingga tidak menimbulkan persoalan ketika para pembaca membaca hasil penerjemahan itu. Jadi hal ini sangat membantu bagi para penerjemah bahasa Lik dan lebih khususnya kepada para pembaca dan pengguna buku ini terutama di daerah Eipomek.

 

  1. Memeriksa konsultan dengan Para Penerjemah

         Tugas seorang konsultan penerjemah adalah membantu tim penerjemah untuk memastikan bahwa, terjemahan itu sudah tepat dan jelas. Semua penerjemahan itu harus di periksa oleh konsultan dengan cara duduk bersama tim penerjemah bahasa dan memberi saran serta petunjuk untuk penerjemahan tersebut. Seperti yang di lakukan oleh Pak Andrew Sims & Nyonya Anne dan para penerjemahnya yaitu, 1. pak Neri soll; 2. Pak Gasper; 3. pak  James; & yang ke 4 adalah  penulis buku ini sendiri. Disini mereka membaca hasil penerjemahan itu bersama dengan  konsultan untuk memastikan bahwa hasil penerjemahan Alkitab dalam bahasa Lik ini sudah tepat, jelas dan wajar.  Adapun tujuan pemeriksaan konsultan, untuk melihat apakah terjemahan sudah di terjemahkan dengan bahasa yang baik atau tidak.  Karena konsultan itu biasanya, banyak bekerja di berbagai suku dan bahasa. Diantaranya adalah bahasa Ketengban Omban, bahasa Ketengban Okbab, bahasa Una Ukam, bahasa China dan bahasa Lik untuk sekarang ini. Jadi ia mempunyai pendapat dan nasihat yang dapat di andalkan mengenai bagaimana memperbaiki hasil terjamahan bahasa Lik. Walaupun begitu konsultan tidak menguasai semua bahasa Lik jadi penerjemah sudah harus membuat suatu penerjemahan balik yaitu, bahasa Lik di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga konsultan lebih mengerti lagi.

         Kemudian ada cara yang lain yaitu jika ada kata-kata yang kurang  di mengerti dan keliru atau kurang jelas dapat di berikan tanda  pada bagian-bagian tersebut, sehingga ketika konsultan hadir bisa ditanyakan langsung kepada konsultan. Karena tugas seorang konsultan bukan saja membantu masalah seperti itu tetapi sampai kepada pemeriksaan akhir konsultan bersama orang awam.

 

  • Pemeriksa dengan Orang Awam, Konsultan dengan Para penerjemah

         Cara menguji coba hasil penerjemahan dengan orang awam adalah sama artinya dengan membagi bersama orang yang tidak tahu terlalu banyak mengenai Alkitab. Mereka bukan pendeta, gembala ataupun majelis. Orang awam juga tidak mengikuti penerjemahan, mereka sama sekali tidak menerjemahkan tetapi konsultan dan penerjemah menguji hasil penerjemahan  itu dengan mencocokannya dengan bantuan orang awam sehingga terjemahan itu tepat atau tidak. Tugas Mereka hanya duduk sambil mendengar hasil bacaan itu supaya  dapat membantu membedakan hasil bacaan itu. Hal ini bukan untuk melihat apakah mereka pintar atau tidak namun  untuk melihat hasil bacaan itu bisa di dengar dengan tepat atau tidak. Uji coba dengan masyarakat awam hanya di butuhkan dua atau tiga orang saja.

  • Pemeriksaan dengan Konsultan Luar

         Pemeriksaan dengan Konsultan Luar yang sama sekali tidak pernah bergabung didalam penerjemahan tim Lik. Konsultan ini hanya akan memeriksa hasil terjemahan setelah menguji coba dengan masyarakat awam. Konsultan luar memeriksa hasil penerjemahan kitab demi kitab. Kemudian kitab yang paling panjang seperti Matius dan Kisah Para Rasul ia akan periksa hanya dengan pertanyaan saja. Hal ini di karenakan ia tinggal di tempat lain jadi ia memeriksa setengah pasal saja. Misalya ia memeriksa paling sedikit 100-200 ayat.

  • Pemeriksaan ketikan

         Sesudah memeriksa hasil terjemahan dari konsultan, perbaikan kemudian di masukan ke dalam komputer. Karena itu penting sekali mengenai ketikan ini. Walaupun ahli mengetik sekalipun juga bisa membuat suatu kesalahan, misalya salah ketik suatu huruf, lupa mengetik suatu bagian atau dengan tidak sengaja menambahkan hal-hal yang tidak perlu. Karena kalau konsep itu mempunyai banyak kesalahan yang di coret-coret mungkin saja akan menimbulkan hal-hal lain yang di ketik salah pada tempat. Jadi memeriksa ketikan sangat perlu. Oleh karena itu semua anggota tim Lik harus duduk bersama-sama dan memeriksa  sehingga tidak melakukan kesalahan-kesalahan nantinya  di dalam Alkitab.

  • Pemeriksaan Lanjutan

         Pemeriksaan mengenai ketepatan ke jelasan dan kewajaran seperti yang di jelaskan nomor 1 diats perlu di lagukan setiap kali tim membuat perbaikan yang akan besar. Selain itu juga sebelum di cetak untuk diterbitkan harus ada pemeriksaan lagi untuk melihat apakah semua yang di ketik itu sudah baik atau tidak. Ini termasuk istilah-istilah Alkitab dan terjemahan perikop yang sejajar dalam kitab-kitab Perjanjian Baru apakah sudah secara baik atau belum.

  • Membaca untuk Terakhir kalinya.

          Setelah beberapa proses menguji coba dan memeriksa ulang maka, sekali lagi tim Lik, semua berkumpul dan berdiskusi bersama-sama. Setelah semua setuju bahwa, terjemahan sudah siap maka kitab yang sudah diterjemahkan dan yang sudah di proses beberapa tahapan itu sudah dapat di terbitkan. Yaitu buku-buku dalam Perjanjian Baru, mulai dari kitab-kitab Injil sampai dengan surat-surat Paulus.

  1. Tahap-Tahap Evaluasi Hasil Terjemahan dan Menjadikannya Buku.

         Sebelum dijadikan buku atau sebelum menyelesaikan proyek penerjemahan harus diadakan evaluasi terlebih dahulu. Ada beberapa hal yang memang perlu di evaluasi,  karena sangat penting sesudah salinan di terjemahkan bahkan sebelum di serakan kepada para pengguna bahasa daerah. Kalau tidak di evaluasi maka masih akan ada kekurangan bahkan ada yang sama sekali tidak berjalan dengan baik. Hal ini membuat semua anggota tim termasuk konsultan duduk bersama-sama dan mengevaluasi kembali. Ada beberapa yang perlu di evaluasi diantaranya adalah:

  • Pemeriksaan ulang hasil terjemahan
  • Bahan-bahan tambahan

         Jadi pemeriksaan ulang adalah, mengenai bagian yang di evaluasi dari hasil penerjemahan itu. Pemeriksaan ulang itu melibatkan semua anggota tim dan konsultan serta para tim ceking supaya bahu-membahu mengoreksi dan menamambakan yang masih kurang.  Jadi mempelajari suatu bagian dengan seluruhnya sekaligus pada saat yang sama, yaitu baca seluruhnya supaya konsultan dan para penerjemah dan tim ceking sendiri akan mengetahui masalahnya. Memberikan akan memberi pendapat dan nasihat yang berguna.  Mengusulkan cara-cara yang lebih baik untuk penerjemah dan cara menyampul buku ketia sudah selesai. Tidak ada salahnya semua tim menyebutkan hal-hal yang bagus yang di temukan oleh anggota tim dan konsultan dalam terjemahan itu. Ini adalah semangat yang  akan mendorong para penerjemah.

         Bahan-bahan yang sudah diberbaiki dapat di masukan ke dalam buku yang sudah di terjemahkan. Yaitu, kata pengantar dan pendahuluan, indeksi kitab yaitu, daftar nama-nama kitab yang ada dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama. Pengantar singkat mengenai tiap kitab dan ringkasan  mengenai kitab-kitab itu dan perlu untuk berikan judul setiap perikopnya {bagian} yang keterangannya menunju kepada bagian Injil tertentu yang juga terdapat dalam Injil lain. Kemudian perlu juga adanya catatan kaki, ilustrasi gambar-gambar, dan kamus. Tidak lupa juga konkordansi atau indeks subyek pilihan yaitu, daftar khusus mengenai topik atau hal-hal penting dalam kitab Perjanjian Baru maupun Lama yang menyebutkan nama kitab, pasal dan ayat dimana masih ada yang belum diterjemahkan dengan baik. Jadi evaluasi ini sangat berguna dan sangat menolong untuk para penerjemah.

         Pentingnya, mempelajari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru akan menolong bagi penerjemah. Kalau seorang penerjemah sudah mengetahui sejarah dan sudah tahu nama orang / nama kota maka ketika ia menerjemahkan akan membuat para pembaca juga bisa mengerti dengan baik. Misalya nama pemimpin seperti Musa, Raja Daud, Salomo, Kaisar Tiberius Kaisar Klaudius, Pilatus dan Erodes serta rasul paulus itu sangat penting jadi semua mereka bekerja sebagai apa dan dimana mereka tinggal dan apa yang mereka katakan / putuskan pada waktu itu. Penerjemah harus tahu dan perlu mempelajari sejarah itu secara mendalam

         Kemudiam mengenai menjetak buku atau menjadikan buku. semua proses ini sudah berjalan baik maka, sesudah evaluasi hal-hal yang menjadi kekurangan dan kelemaan di selesaikan semua maka terjadilah rencana mencetak buku hasil penerjemahan itu. Waktu mencetak buku ini tidak melibatkan semua tim tetapi, hanya konsultan dan pemimpin yayasan saja. Yang sekarang di pakai ditim Lik adalah, Yayasan Misi Penginjilan Pemuridan Papua (YMP3), Yayasan Sumber Sejahtera Jakarta Gleenville, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

kemudian bekerja sama juga dengan SIL dan Depulau supaya mereka dapat ikut serta pada pengiiriman buku dan pada waktu hari H.

Oleh karena itu setiap theolog perlu menyadari dan perlu belajar tentang kebenaran firman Tuhan supaya  ketika ia membaca Alkitab itu jangan sampai  ia  salah menafsirkan tetapi apa yang ia pelajari itu hal yang memang benar. Dan ketika mengajar orang lain informasinya tepat, wajar, dan jelas sehingga para pendengar bisa menerima dengan baik. Kalau para pembaca dan para pendengar tidak mengerti baik maka itu bukan persoalan dari pembaca melainkan persoalan dari para penerjemah. Kalau penerjemah tidak memperhatikan dan tidak menerjemahkan dengan baik maka pasti para pendengar dan para pembaca menerima dengan baik dan  hasilnya juga bisa diterima dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

Penutup

 

         Sesuai dengan pembahasan pada bab sebelumnya maka pada bab ini, akan di kemukakan            kesimpulan dan saran.

    A .     Kesimpulan

         Alkitab adalah firman Allah yang di tulis dalam bahasa aslinya yaitu, bahasa Ibrani dan Yunani, ada juga beberapa nats dari bahasa Aram juga, Alkitab merupakan karya Allah melalui hamba-hamba-Nya yang di hilamkan oleh Roh kudus dan ditulis dalam jangka waktu  kurang lebih 1500 tahun. Mereka menulis Alkitab dengan dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Dimana penulisnya sendiri tidak pernah bertemu satu sama lain tetapi mereka  tetap setia melayani Tuhan melalui penulisan kitab-kitab ini.

  a. Alkitab yang di tulis dengan bahasa asli sulit di pahami. Mengingat banyak pembaca dan orang percaya banyak tidak mengerti bahasa yang ada didalam Alkitab. Oleh sebab itu perlu sekali penerjemahan.

  b.  Untuk mempermudah pemahaman terhadap firman Tuhan tersebut maka Alkitab perlu di terjemakkan atau ditulis kepada masing-masing suku. Kebenaran firman Tuhan itu tidak bisa di pahami mereka jika firman Tuhan itu dibacakan oleh orang lain tetapi  akan mudah dimengerti jika di baca dan di dengar dalam bahasa mereka sendiri

         Masyarakat pada umumnya tidak memahami bahasa Alkitab, seperti bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Yaitu, mereka yang memakai bahasa ibu yang tinggal di kampung-kampung dan masyarakat awam yang tidak bersekolah. Mereka hanya bisa mendengar dari  hamba-hamba Tuhan yang berbicara dan berkhotbah dalam bahasa mereka.

c. Alkitab adalah Firman Allah yang memiliki peranan penting dalam pertumbuhan iman orang Kristen. Perkembangan Gereja dewasa ini telah mencapai berbagai negara, suku, ras, budaya dan bahasa. Sehingga menuntut adanya pemahaman tentang kebenaran firman Tuhan dalam Alkitab dengan baik. Dengan ini di anjurkan agar Alkitab itu di terjemahkan, dalam berbagai bahasa agar para pembaca memahami dengan baik.

d. Jika kebenaran firman Tuhan Langsung disampaikan kepada masyarakat dengan bahasa mereka sendiri maka, hal itu dianggap bahwa Allah berbicara langsung kepada mereka. Jadi penerjemahan bahasa daerah itu penting sekali.

 

 B.  Saran

  • Melalui  tulisan ini, penulis berharap agar para pembaca dan pengguna buku ini memahami kebenaran firman Tuhan dalam bahasa Lik yupu ini dengan baik akhirnya bisa mengerti firman Tuhan secara benar.
  • Penulis buku ini juga berharap supaya semua pihak ikut serta belajar hasil penerjemahan dalam bahasa Lik ini, supaya kalau ada yang tidak jelas, wajar,  bisa di koreksi.
  • Penulis menyerankan agar para gembala daerah dan klasis wilayah menerima hasil penerjamahan ini, dan membuat program supaya di terapkan di sekolah minggu dan bagi orang-orang yang buta huruf didalam jemaat.
  • Penulis juga  mengusulkan supaya, BPH klasis bisa membuat seminar didalam jemaat agar mereka bisa mengerti tentang Firman Tuhan yang selama ini kurang mereka mengerti.
  • Penulis juga berharap setiap orang yang terpanggil dalam menyampaikan firman Allah dalam bahasa Lik perlu untuk terus mempelajari buku-buku yang sudah di siapkan melalui terjemahan dalam konteks bahasa Lik ini.
  • Mulailah dengan berkhotbah baik itu di pos PI maupun didalam jemaat yang sudah dewasa. Serta tidak lupa menggunakan renferensi utama dalam bahasa daerah Lik.
  • Gunakanlah  buku-buku tafsiran untuk membandingkan penggalian Alkitab bahasa daerah dengan bahasa Indonesia agar dapat memperbaiki kekeliruan dalam firman Tuhan.
  • Yang terlebih penting dari semuanya adalah saran firman Tuhan dalam II Timotius 4:2 bahwa “Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. Nyatakanlah apa yang salah tegorlah dan nasihatlah dengan segala kebenaran dan pengajaran oleh sebab itu bukan mengajar atau berkhotba satu bahasa tetapi semua bahasa atau semua makhluk hidup atau  bernafas memuji Tuhan HALELUYAH”  (Mzr 150: 6).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KE PUSTAKAAN

 

……………….,

            2005                Tim Mari Menerjemahkan Bahasa Daerah,  Jakarta:  Yayasan Kartidaya  

 

Barnwell, Katharine

            2008                Pelajaran Mengenai Prinsip-Prinsip Penerjemahan Alkitab, Jakarta:    Yayasan Kartidaya.

 

Bolton,Rosemary A.,

  1.                 Belajar Menerjemahkan Bahasa Kita. Bandung:

 

Komala, Robby F.,

Belajar Nama-nama Hewan dan Tumbuhan dalam Alkitab, Lembaga Literatur Babtis

 

Kroneman, Margreet

2008                Cara Hidup Masyarakat pada Zaman Alkitab,  Jakarta:

 

Lyton, Rofly

            1998                Belajar dan Pelatihan tentang Penerjemahan Bahasa, Jakarta: Pustaka Binaman

 

Suharno,

            1991                Latar belakang dalam Dunia Perjanjian Baru,  Yogjakarta: Kansisius

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

Y ates S tay N abyal

NIM: 0701047

 

 

 

 

 

 

SEKOLAH  TINGGI  THEOLOGI   - IFTA

J ayapura, 2011

 
  image

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Amu lum dam.jpg